Investasi Langsung Asing ke Indonesia Turun Menjadi US$ 14,82 Miliar

Investasi Langsung Asing ke Indonesia Turun Menjadi US$ 14,82 Miliar
Foto: Ilustrasi Investasi Langsung Asing ke Indonesia Turun Menjadi US$ 14,82 Miliar.

Arus investasi langsung asing atau foreign direct investment (FDI) ke Indonesia mengalami penurunan sebesar 14 persen menjadi US$ 14,82 miliar pada tahun 2022 di tengah guncangan ekonomi global akibat konflik Rusia-Ukraina. Penurunan tren investasi ini dilaporkan berlanjut hingga paruh pertama tahun 2023 berdasarkan data Neraca Pembayaran Indonesia yang dirilis Selasa (22/08/2023).

Data yang dilansir dari Investortrust menunjukkan bahwa net FDI pada semester I 2023 merosot 11 persen menjadi US$ 7,17 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 8,02 miliar. Kondisi ini sejalan dengan tren global di mana UNCTAD mencatat aliran FDI dunia anjlok 12 persen menjadi US$ 1,3 triliun tahun lalu setelah sempat pulih pada 2021.

OECD turut melaporkan bahwa aliran modal asing global belum pulih sepenuhnya sejak pecahnya perang di Eropa Timur. Meskipun pada kuartal I 2023 aliran investasi dunia menyentuh US$ 440 miliar, angka tersebut masih berada 25 persen di bawah level triwulan pertama tahun sebelumnya.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Erwin Haryono, memberikan penjelasan mengenai kondisi ketahanan modal dalam negeri di tengah situasi tersebut. Penegasan mengenai stabilitas persepsi investor menjadi poin utama dalam tinjauan otoritas moneter terhadap data terbaru.

"investasi langsung ke Indonesia pada triwulan II 2023 dinilai tetap solid, membukukan surplus, sebagai cerminan dari tetap terjaganya persepsi positif investor terhadap prospek ekonomi domestik." kata Erwin Haryono, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia.

Arus masuk neto Penanaman Modal Asing (PMA) pada triwulan I 2023 tercatat mencapai US$ 4,9 miliar, sedikit lebih rendah dari triwulan sebelumnya yang mencapai US$ 5,6 miliar. Sektor industri pengolahan, perdagangan, serta pertambangan dan penggalian menjadi tujuan utama modal asing dengan total pangsa 77,9 persen.

Investasi pada sektor industri pengolahan didominasi oleh perusahaan otomotif asal Jepang dan industri logam dari Hong Kong. Sementara itu, sektor perdagangan menarik minat investor asal Belanda dan Amerika Serikat, sedangkan sektor pertambangan banyak didanai oleh pemodal dari Tiongkok dan Amerika Serikat.

Secara geografis, aliran masuk PMA selama triwulan II 2023 mayoritas berasal dari kawasan ASEAN dan negara Asia lainnya seperti Tiongkok serta Jepang dengan total nilai US$ 3,6 miliar. Namun, sektor investasi portofolio mencatatkan defisit akibat meningkatnya pembayaran global bonds dan pinjaman luar negeri yang jatuh tempo.

Di pasar modal, kepemilikan asing pada Surat Utang Negara (SUN) rupiah meningkat menjadi 18,5 persen atau senilai US$ 55,0 miliar pada akhir triwulan II 2023. Pasar saham juga mencatatkan pembelian neto asing sebesar US$ 0,6 miliar yang didorong oleh kehadiran 16 emiten baru melalui penawaran saham perdana (IPO).

Meskipun terdapat aliran masuk modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih tertahan di level 6.661,9 pada akhir Juni 2023. Pergerakan ini sejalan dengan pelemahan bursa saham di kawasan Asia Tenggara lainnya seperti Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand.

Artikel terkait

Rekomendasi