Industri Mebel Indonesia Dorong Kenaikan Nilai Ekspor Melalui Kriya

Industri Mebel Indonesia Dorong Kenaikan Nilai Ekspor Melalui Kriya
Foto: Ilustrasi Industri Mebel Indonesia Dorong Kenaikan Nilai Ekspor Melalui Kriya.

Sektor industri berorientasi ekspor nasional mengalami tekanan performa yang terlihat dari penurunan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) menjadi 52,28 pada Maret 2026. Data Kementerian Perindustrian menunjukkan perlambatan dibandingkan bulan sebelumnya, dengan tujuh sektor industri, termasuk industri kayu dan kriya, mengalami kontraksi dalam periode tersebut.

Pelemahan ini dipengaruhi oleh ketergantungan pelaku industri nasional pada persaingan harga dan volume produksi massal. Berdasarkan informasi yang dilansir dari Money, kondisi ini menyulitkan posisi Indonesia saat harus bersaing dengan efisiensi skala produksi dari negara kompetitor seperti China dan Vietnam.

Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur, menilai potensi besar Indonesia justru terletak pada aspek desain dan nilai budaya. Pihaknya mendorong adanya transformasi strategi agar industri dalam negeri mampu menyasar segmen pasar bernilai tinggi.

"Kita bisa naik kelas ke high value market. ÔÇ£Kita tidak bisa terus bermain di volume. Kekuatan Indonesia ada pada desain, budaya, dan craftsmanship. Kita bisa naik kelas ke high value market,ÔÇØ ujar Sobur, Kamis (30/4/2026).

Penguatan elemen seni dipandang menjadi langkah strategis untuk meningkatkan martabat produk kriya di pasar global. Sobur menambahkan bahwa produk kriya Indonesia memiliki nilai filosofis yang kuat di samping kegunaan fungsinya.

Data Badan Pusat Statistik mencatatkan subsektor fesyen dan kriya sebagai penopang ekonomi kreatif dengan nilai ekspor mencapai 28,4 miliar dollar AS pada Januari-November 2025. Peningkatan capaian ini dinilai membutuhkan integrasi yang lebih erat antar pemangku kepentingan kreatif.

ÔÇ£Ke depan, kita perlu mendorong integrasi antara perajin, seniman, dan desainer agar kriya Indonesia dapat berkembang tidak hanya sebagai produk, tetapi juga sebagai ekspresi budaya yang diakui secara global,ÔÇØ ujar Sobur.

Ekosistem budaya ukir Jepara menjadi salah satu contoh nyata kekuatan industri kriya yang kini ditampilkan dalam pameran Tatah Ukir Jepara di Museum Nasional Indonesia. Pameran yang berlangsung sejak 29 April hingga awal Juli 2026 ini merepresentasikan sejarah panjang ukir sebagai identitas lokal sekaligus tulang punggung ekonomi.

Sobur menegaskan bahwa Jepara bukan sekadar pusat produksi, melainkan sebuah warisan pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun melalui praktik hidup harian masyarakat setempat. Transformasi dari simbol budaya menjadi kekuatan ekonomi ini melibatkan ratusan ribu orang dalam rantai produksi hingga ekspor.

ÔÇ£Jepara itu bukan sekadar sentra produksi. Ia adalah ekosistem budaya yang sudah tumbuh ratusan tahun. Ukiran di sana bukan hanya teknik, tetapi warisan pengetahuan,ÔÇØ ungkap Sobur.

Tantangan utama saat ini bagi para pelaku industri adalah mempertahankan kedalaman nilai seni di tengah tekanan permintaan pasar internasional. Upaya membawa produk kriya ke ruang pameran formal diharapkan mampu meningkatkan nilai ekonomi sekaligus posisi tawarnya.

ÔÇ£Ketika kriya masuk ke galeri, kita tidak hanya menaikkan nilai ekonomi, tetapi juga mengembalikan martabatnya sebagai ekspresi budaya,ÔÇØ ucap Sobur.

Artikel terkait

Rekomendasi