Indonesia Ajukan Diri Jadi Lokasi Uji Klinis Obat Tuberkulosis Baru

Indonesia Ajukan Diri Jadi Lokasi Uji Klinis Obat Tuberkulosis Baru
Foto: Ilustrasi Indonesia Ajukan Diri Jadi Lokasi Uji Klinis Obat Tuberkulosis Baru.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menawarkan Indonesia sebagai lokasi uji klinis fase tiga untuk obat tuberkulosis (TB) terbaru dengan durasi pengobatan satu bulan. Langkah strategis ini disampaikan dalam rapat kerja bersama DPR pada Senin (20/4/2026) guna mempercepat akses pengobatan bagi pasien domestik.

Terobosan medis ini diharapkan dapat menggantikan regimen pengobatan standar yang saat ini memakan waktu enam bulan atau lebih. Dilansir dari Detik Health, durasi pengobatan yang jauh lebih pendek tersebut bertujuan untuk menekan angka putus obat yang sering terjadi akibat kejenuhan pasien mengonsumsi antibiotik dalam jangka panjang.

Metode pengobatan baru ini melibatkan kombinasi konsumsi obat selama satu bulan yang dibarengi dengan pemberian suntikan. Menkes menjelaskan bahwa efektivitas obat yang disuntikkan lebih optimal karena langsung masuk ke peredaran darah tanpa melalui saluran pencernaan terlebih dahulu.

"Kita menawarkan diri, di Indonesia, sehingga pasien Indonesia bisa dapat duluan," beber Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan RI.

Pemerintah juga berupaya mendorong kemandirian farmasi nasional dengan melibatkan produsen obat pelat merah dalam proses pengembangan ini sejak tahap awal. Hal ini dilakukan agar Indonesia memiliki kemampuan untuk memproduksi obat tersebut secara mandiri di masa depan.

"Saya juga meminta supaya Biofarma bisa dilibatkan dari awal. Jadi ini (obat TB yang sedang diteliti) satu bulan makan obat, kemudian disuntik," tutur Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan RI.

Inovasi ini dinilai akan menjadi perubahan besar dalam peta penanganan tuberkulosis di tanah air. Budi menegaskan bahwa peralihan dari pil antibiotik ke metode suntikan akan memastikan sirkulasi obat yang terus berputar di dalam darah.

"Kenapa nggak obat saja? Obat itu kalau sudah masuk kan akan keluar. Bah kalau disuntik, itu kan darah mutar tersus, obat yang tadinya pil antibiotik itu akan diganti, yang tadinya masuk ke saluran pencernaan menjadi ke darah," kata Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan RI.

Menkes memproyeksikan bahwa seluruh rangkaian pengembangan obat TB satu bulan ini ditargetkan dapat rampung sepenuhnya pada tahun 2029. Ia meyakini bahwa keberhasilan melewati fase satu dan dua sudah menjadi jaminan awal terhadap aspek keamanan dan efikasi obat tersebut.

"Kalau ini jadi, akan menjadi inovasi besar dalam pengobatan tuberkulosis," terang Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan RI.

Uji klinis fase tiga dipandang krusial karena melibatkan populasi yang lebih besar untuk melihat kinerja obat pada kondisi nyata. Perbedaan genetik antar negara menjadi alasan utama mengapa uji coba di dalam negeri sangat diperlukan agar hasil modifikasi terapi lebih akurat bagi masyarakat Indonesia.

"Clinical trial level 3 memang dibutuhkan untuk melihat penerapannya di skala populasi besar. Dan, kami melihat kadang tiap negara punya genetik berbeda," tutur Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan RI.

Ia menekankan pentingnya kecocokan populasi dengan mengambil contoh vaksin malaria yang memiliki tingkat kecocokan berbeda antara wilayah Afrika dan Indonesia. Keikutsertaan sebagai lokasi uji coba dipandang sebagai kunci untuk menyesuaikan terapi dengan karakteristik lokal.

"Justru dengan menjadi site clinical trial, kecocokan atau modifikasi terapi bisa disesuaikan dengan masyarakat kita. Selain masyarakat juga mendapatkan akses lebih dulu," kata Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan RI.

Artikel terkait

Rekomendasi