Indonesia kembali berpartisipasi dalam ajang seni bergengsi Venice Biennale 2026 di Scuola Internazionale di Grafica, Italia, setelah absen selama enam tahun. Kehadiran ini menjadi langkah strategis pemerintah dalam menjalankan diplomasi kebudayaan guna memperkokoh posisi seni rupa nasional di tingkat internasional.
Eksistensi Paviliun Indonesia dalam pameran seni tertua di dunia tersebut didukung oleh Kementerian Kebudayaan RI bersama sejumlah lembaga lainnya. Sebagaimana dilansir dari Detikcom, kolaborasi ini melibatkan Danantara Indonesia Trust Fund, Negeri Elok, Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya, dan Venice Art Factory.
Pameran kali ini mengusung tajuk "Printing the Unprinted" yang menampilkan karya dari tujuh seniman lintas generasi. Para seniman yang terlibat meliputi Agus Suwage, Syahrizal Pahlevi, Nurdian Ichsan, R.E Hartanto, Theresia Agustina Sitompul, Mariam Sofrina, dan Rusyan Yasin.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon memberikan penegasan bahwa keikutsertaan Indonesia pada edisi 2026 merupakan sebuah momentum krusial bagi ekosistem seni tanah air.
"Melalui karya-karya yang ditampilkan di Paviliun ini, para seniman Indonesia menghadirkan narasi-narasi imajinatif yang mengisi ruang-ruang yang belum tercatat, suara-suara yang belum terdengar, ingatan yang terlupakan, dan masa depan yang belum pernah dibayangkan," kata Fadli Zon, Menteri Kebudayaan.
Narasi pameran ini menggali fiksi mengenai pelayaran besar pada abad ke-15 yang bersumber dari manuskrip imajiner Datu Na Tolu Hamonangan dari Sumatera. Melalui medium cetak grafis, pameran tersebut membuka ruang diskusi mengenai relasi historis antara wilayah Asia dan Eropa.
Program ini juga menitikberatkan pada pengembangan bakat melalui Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya yang menggandeng tujuh talenta muda untuk bekerja sama dengan seniman senior. Proses penciptaan kolektif ini menggunakan pendekatan terapi seni sebagai sarana membangun empati dan merawat memori kolektif bangsa.