Impor RI Melonjak 9,97% Q1-2026: Harga Perhiasan hingga Daging Naik Signifikan

Impor RI Melonjak 9,97% Q1-2026: Harga Perhiasan hingga Daging Naik Signifikan
Foto: Impor RI Melonjak 9,97% Q1-2026: Harga Perhiasan hingga Daging Naik Signifikan. (Illustration by Pexels)

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan adanya kenaikan signifikan pada harga barang-barang impor yang masuk ke pasar Indonesia selama kuartal I-2026. Berdasarkan data terbaru, Indeks Harga Impor (IHM) umum melonjak hingga 9,97 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan ini terlihat dari posisi indeks yang sebelumnya berada di angka 111,31 pada awal tahun 2025, kini merangkak naik ke level 122,41. BPS menyebutkan bahwa pergerakan harga berbagai komoditas impor memang menunjukkan tren penguatan secara merata sepanjang tiga bulan pertama tahun ini.

Rincian Kenaikan Harga Sektor Migas dan Nonmigas

Lonjakan harga tidak hanya terjadi pada kebutuhan energi, tetapi juga pada berbagai barang konsumsi dan industri lainnya. Sektor migas mencatatkan kenaikan indeks harga sebesar 3,08 persen dibandingkan kuartal pertama tahun sebelumnya.

Di sisi lain, kelompok nonmigas mengalami tekanan inflasi yang jauh lebih tinggi. Tercatat, indeks harga pada kelompok ini melesat sebesar 12,61 persen, naik dari angka 114,40 menjadi 128,83 pada awal 2026.

Beberapa kelompok barang yang mencatatkan kenaikan harga impor paling tajam selama periode ini antara lain:

  • Logam mulia serta perhiasan atau permata (HS 71) dengan lonjakan mencapai 80,72 persen.
  • Garam, belerang, batu, dan semen (HS 25) yang harganya meningkat hingga 56,10 persen.
  • Instrumen optik, fotografi, sinematografi, dan peralatan medis (HS 90) sebesar 29,73 persen.
  • Perabotan, lampu, serta berbagai alat penerangan (HS 94) dengan kenaikan 28,25 persen.
  • Daging hewan (HS 02) yang mengalami inflasi harga impor sebesar 27,45 persen.

Kenaikan harga pada komoditas seperti logam mulia dan perhiasan menjadi yang paling mendominasi. Selain itu, bahan baku konstruksi seperti semen dan garam industri juga memberikan beban tambahan pada biaya impor nasional.

Komoditas Impor yang Mengalami Penurunan Harga

Meski secara umum indeks mengalami kenaikan, terdapat beberapa golongan barang yang justru mengalami penurunan harga impor atau deflasi. Hal ini memberikan sedikit ruang napas bagi sektor industri yang bergantung pada bahan-bahan tersebut.

Berikut adalah daftar golongan barang dengan penurunan harga impor terdalam secara tahunan:

Golongan Barang (Kode HS) Persentase Penurunan (Deflasi)
Sayuran (HS 07) 35,37%
Kakao dan Olahannya (HS 18) 29,60%
Serat Stapel Buatan (HS 55) 12,28%
Gula dan Kembang Gula (HS 17) 7,26%
Bahan Kimia Organik (HS 29) 6,01%

Tabel di atas merinci komoditas yang harganya lebih murah dibandingkan tahun lalu, dipimpin oleh sektor sayuran dan kakao. Penurunan harga ini dipengaruhi oleh dinamika pasar global dan ketersediaan pasokan dari negara eksportir.

Secara keseluruhan, data BPS ini menunjukkan tantangan bagi stabilitas harga di dalam negeri, mengingat banyaknya barang modal dan bahan baku yang masih didatangkan dari luar negeri. Pemerintah terus memantau pergerakan harga ini untuk mengantisipasi dampaknya terhadap daya beli masyarakat.

Artikel terkait

Rekomendasi