IHSG Melemah ke Level 7.168 Akibat Eskalasi Konflik Timur Tengah

IHSG Melemah ke Level 7.168 Akibat Eskalasi Konflik Timur Tengah
Foto: Ilustrasi IHSG Melemah ke Level 7.168 Akibat Eskalasi Konflik Timur Tengah.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi sebesar 5,853 poin atau 0,08 persen ke level 7.168,468 pada penutupan sesi pertama perdagangan Jumat (8/5/2024). Penurunan ini dipicu oleh memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang menekan sentimen pasar global.

Dilansir dari Money, indeks sempat dibuka pada posisi 7.182,961 dan mencapai titik tertinggi harian di 7.186,830 sebelum tekanan jual membawanya ke area terendah 7.116,770. Aktivitas perdagangan tercatat cukup ramai dengan volume transaksi mencapai 23,360 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp 10,794 triliun.

Data perdagangan menunjukkan sebanyak 398 saham melemah, sementara 245 saham menguat dan 168 saham lainnya stagnan. Frekuensi transaksi di bursa terpantau sebanyak 1.424.551 kali selama sesi pertama berlangsung.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menjelaskan bahwa serangan balasan Amerika Serikat terhadap Iran menjadi faktor utama pudarnya optimisme pasar. Ketegangan mencuat setelah laporan penembakan terhadap aset militer di kawasan tersebut.

"Bagaimana tidak? Amerika menyampaikan bahwa mereka menembaki Iran, setelah Iran menyerang terhadap salah satu kapal milik Angkatan Laut Amerika kemarin. Serangan Iran terhadap tiga kapal Amerika, melibatkan rudal, drone, dan perahu kecil," ujar Nico, Jumat.

Nico menambahkan bahwa respons militer Amerika Serikat ditujukan kepada pihak yang dianggap bertanggung jawab atas serangan kapal tersebut. Situasi ini meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar akan konflik yang berkepanjangan.

"Tentu saja, Amerika dengan senang hati membalas serangan tersebut dengan menargetkan seluruh pihak yang bertanggung jawab penuh atas serangan tersebut," paparnya.

Kekhawatiran mengenai ketidakmampuan berbagai pihak untuk menahan diri dalam konflik ini menjadi sorotan utama bagi para investor. Hal tersebut memberikan tekanan tambahan bahwa perdamaian sulit tercapai dalam waktu dekat.

"Hal ini tentu saja membuat ketegangan tensi geopolitik, mulai kembali mencuat ke atas. Kekhawatiran bahwa banyak pihak tidak mampu menahan diri, telah membuat situasi dan kondisi kembali mengalami tekanan bahwa perang tidak akan semudah itu untuk berakhir," paparnya.

Selain faktor geopolitik, pasar mencermati putusan Mahkamah Agung AS yang menyatakan kebijakan tarif global 10 persen Presiden Donald Trump melanggar hukum. Di sisi domestik, investor memperhatikan target pertumbuhan ekonomi pemerintah sebesar 7,5 persen pada tahun 2027.

Artikel terkait

Rekomendasi