Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) pada penutupan sesi I, Kamis (21/5/2026), kembali mengalami kejatuhan yang cukup dalam. Dilansir dari Investortrust, indeks terpangkas sebanyak 174,14 poin atau setara 2,76% hingga merosot ke level 6.144.
Kondisi pasar modal domestik ini menunjukkan arah yang bertolak belakang dengan situasi global. Pasalnya, pergerakan saham di sejumlah pasar dunia justru dilaporkan sedang mengalami pemulihan atau rebound yang cukup pesat.
Akibat penurunan tajam ini, akumulasi pelemahan IHSG sepanjang year to date (ytd) tercatat hampir menyentuh angka 30%. Catatan performa tersebut sekaligus menempatkan indeks saham Indonesia sebagai yang terburuk di dunia.
Kemerosotan yang terjadi pada paruh pertama hari ini didorong oleh melemahnya seluruh sektor saham di bursa. Koreksi terdalam dialami oleh sektor material dasar yang terpangkas hingga mencapai 6,46%.
Selain material dasar, beberapa sektor lain yang ikut menekan pergerakan indeks meliputi sektor energi yang merosot 5,02%, serta sektor industri yang melemah sebesar 4,02%. Sektor transportasi juga mengalami tekanan yang cukup besar dengan penurunan hingga 4,69%.
Koreksi massal ini diperparah oleh penurunan yang melanda sektor konsumer primer sebesar 4,11%. Sementara itu, saham-saham yang berada di dalam sektor infrastruktur mencatatkan pelemahan sebesar 3,88%.
Tekanan Saham Emiten Raksasa
Sebagian besar instrumen saham membukukan penurunan nilai yang signifikan pada perdagangan hari ini. Tekanan jual utamanya melanda saham-saham dari kelompok emiten konglomerasi besar di tanah air.
Koreksi paling tajam terlihat pada kelompok konglomerasi Prajogo Pangestu, yang dipimpin oleh saham TPIA hingga menyentuh batas ARB. Tren penurunan ini juga diikuti oleh saham dari grup emiten Sinarmas, Boy Thohir, Happy Hapsoro, serta beberapa kelompok konglomerasi lainnya.
Secara rinci, saham kapitalisasi besar milik Prajogo Pangestu menjadi penekan utama pergerakan indeks. Saham TPIA tercatat anjlok sebesar 14,74%, disusul oleh BREN yang turun 7,62%, dan BRPT yang melemah hingga 10,18%.
Emiten berkapitalisasi besar lainnya juga tidak luput dari koreksi pada paruh pertama perdagangan. Saham DSSA terpantau jatuh sebesar 5,33%, kemudian saham CUAN melosot 9,23%, serta saham AMMN yang ikut turun 6,31%.
Sektor Lapis Ketiga Mengalami Penguatan
Di tengah pelemahan indeks secara umum, sejumlah saham dari kelompok lapis ketiga justru mampu mencatatkan pertumbuhan nilai yang cukup tinggi pada sesi pertama hari ini.
Saham SOTS membukukan kenaikan tertinggi sebesar 25% ke posisi Rp 875, diikuti oleh KOBX yang menguat 16,67% menjadi Rp 182. Selanjutnya, saham ALKA meningkat 14,81% ke level Rp 496, UNIC naik 12,70% ke Rp 14.425, dan ZONE bertambah 12,38% menjadi Rp 454.
Kondisi ini berbeda dengan performa perdagangan sehari sebelumnya, di mana IHSG ditutup melemah sebesar 52,18 poin atau 0,82% ke level 6.318. Pada perdagangan tersebut, investor asing sebenarnya masih membukukan aksi beli bersih senilai Rp 249,17 miliar di seluruh pasar.
Aksi beli bersih oleh investor asing kemarin paling banyak diarahkan pada saham VKTR dengan nilai mencapai Rp 262,35 miliar. Saham BUMI juga mengantongi net buy sebesar Rp 223,43 miliar, diikuti oleh saham BMRI yang mencatatkan pembelian bersih senilai Rp 217,73, miliar.
Pelemahan yang terjadi kemarin juga dipengaruhi oleh jatuhnya sejumlah sektor utama. Sektor material dasar anjlok sebesar 4,67%, sektor transportasi melemah 4,22%, sektor energi turun 2,65%, konsumer primer terkoreksi 2,06%, dan sektor teknologi berkurang 1,38%.
Meskipun demikian, pada perdagangan kemarin masih terdapat beberapa sektor yang mampu bergerak di zona hijau. Sektor keuangan serta sektor infrastruktur tercatat menjadi area yang berhasil mengalami kenaikan harga saham.
Pada perdagangan kemarin, beberapa emiten juga sempat menorehkan lompatan harga yang signifikan. Saham LCKM tercatat melonjak sebesar 29,33% ke posisi Rp 194, sementara APIC mengalami kenaikan 24,81% hingga mencapai level Rp 1.610.
Penguatan kemarin juga dirasakan oleh saham INTD yang berhasil tumbuh sebesar 24,35% menjadi Rp 286. Emiten MORA menyusul dengan kenaikan 19,75% ke harga Rp 7.125, dan saham ZONE melaju sebesar 18,82% hingga ditutup pada level Rp 404.