Rumor mengenai rencana pemerintah membentuk badan khusus yang akan mengendalikan aktivitas ekspor komoditas memicu tekanan besar pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI).
Dilansir dari Investortrust, isu sensitif ini disinyalir menjadi faktor utama yang merontokkan indeks saham dalam dua hari berturut-turut.
Kabar yang beredar di kalangan pelaku pasar menyebutkan bahwa badan ekspor komoditas tersebut akan segera diumumkan dalam waktu dekat guna memangkas praktik under invoicing.
Lembaga baru ini nantinya bakal berfungsi sebagai pintu utama sekaligus agregator ekspor nasional.
Melalui skema tersebut, seluruh perusahaan sumber daya alam (SDA) diwajibkan menjual produk mereka ke badan ini sebelum dikirim ke pasar global.
Sektor crude palm oil (CPO) dan batu bara dikabarkan menjadi prioritas pertama yang masuk dalam sistem baru tersebut, sementara komoditas mineral masih dievaluasi.
Pemberlakuan model agregator ini berpotensi menambah beban biaya atau fee baru bagi emiten eksportir pertambangan dan komoditas.
Pemerintah dilaporkan tengah menimbang dua skenario kelembagaan untuk badan ini, yakni ditempatkan di bawah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau dikelola oleh Danantara.
Namun, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari otoritas pemerintahan terkait kebenaran pembentukan maupun detail implementasi badan khusus ekspor tersebut.
Sentimen negatif dari rumor ini menekan IHSG hingga merosot lebih dari 16,3 persen dalam sebulan terakhir, serta melemah 8,2 persen dalam lima hari perdagangan.
Pada perdagangan Selasa (19/5/2026), IHSG mendadak anjlok sebesar 202,97 poin atau 3,08 persen ke level 6.396 pada penutupan sesi I.
Koreksi semakin mendalam pada awal transaksi sesi II dengan penurunan indeks mencapai 3,3 persen ke posisi 5.375.
Kemerosotan dipicu oleh jatuhnya seluruh sektor saham, terutama sektor material dasar yang ambruk 7,26 persen, sektor energi 6,47 persen, serta sektor transportasi sebesar 5,94 persen.
Kondisi ini terhitung anomali karena saham-saham komoditas nasional justru berguguran di saat harga komoditas di pasar global sedang mengalami tren kenaikan.
Emiten batu bara yang mencatatkan kejatuhan signifikan di antaranya adalah AADI, ADMR, BUMI, ITMG, dan BYAN.
Pelemahan serupa melanda saham-saham mineral seperti TINS, INDY, ARCI, EMAS, MDKA, INCO, hingga HRTA.
Sektor perkebunan kelapa sawit tidak luput dari aksi jual massal yang membuat saham CPO seperti SMAR, AALI, AGRO, LSIP, dan SIMP ikut tumbang sepanjang sesi perdagangan.