IDAI Peringatkan Risiko Penyakit Anak Saat Musim Kemarau

IDAI Peringatkan Risiko Penyakit Anak Saat Musim Kemarau
Foto: Ilustrasi IDAI Peringatkan Risiko Penyakit Anak Saat Musim Kemarau.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memperingatkan peningkatan risiko gangguan kesehatan pada anak akibat cuaca ekstrem. Lonjakan ancaman ini dipicu oleh fenomena cuaca yang dikenal sebagai Godzilla El Nino.

Seperti dilansir dari Media Indonesia, cuaca panas yang ekstrem berpotensi memicu kondisi fatal seperti heat stroke, dehidrasi berat, hingga infeksi saluran pencernaan. Keterbatasan akses air bersih selama masa kekeringan memperparah risiko penyebaran penyakit ini.

Sistem kekebalan tubuh anak-anak yang belum matang menjadi faktor utama mereka rentan terhadap serangan patogen. Bakteri dan virus berkembang biak lebih cepat dalam kondisi lingkungan yang kering dan bersuhu tinggi.

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi keluhan yang paling mendominasi saat kemarau panjang. Debu yang beterbangan membawa mikroorganisme yang dengan mudah terhirup, memicu gejala batuk, pilek, serta sesak napas akibat selaput lendir hidung yang mengering.

Masalah pencernaan seperti diare dan muntaber juga mengintai akibat penurunan kualitas air bersih. Selain kontaminasi bakteri E. coli pada sumber air, peningkatan aktivitas lalat di cuaca panas mempercepat perpindahan kuman ke makanan anak.

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) tetap menjadi ancaman serius meski cuaca sedang gersang. Wadah penampungan air yang jarang dikuras menjadi tempat ideal bagi nyamuk Aedes aegypti, yang siklus hidupnya menjadi lebih pendek dan cepat di udara panas.

Iritasi kulit, biang keringat, infeksi jamur, serta konjungtivitis atau mata merah juga rentan menular di kalangan anak-anak akibat paparan debu. Selain itu, aktivitas fisik tanpa asupan cairan yang cukup berisiko memicu dehidrasi hingga serangan heatstroke.

Faktor Kerentanan dan Langkah Pencegahan

Anak-anak menjadi sasaran utama penyakit musiman ini karena intensitas aktivitas luar ruangan yang tinggi serta belum disiplin dalam menjaga higienitas. Pola hidup bersih dan sehat (PHBS) menjadi kunci utama perlindungan yang harus diterapkan orangtua.

Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan memastikan anak mengonsumsi air putih minimal 1,5 hingga 2 liter per hari sesuai usia. Penggunaan masker saat beraktivitas di luar rumah sangat disarankan untuk menghindari hirupan debu jalanan.

Orangtua juga diimbau memberikan asupan bernutrisi tinggi yang kaya vitamin C serta membiasakan cuci tangan pakai sabun. Kebersihan lingkungan rumah harus dijaga melalui gerakan menguras bak mandi secara rutin untuk memutus siklus hidup nyamuk.

Gejala Darurat yang Memerlukan Dokter

Pemeriksaan medis darurat harus segera dilakukan jika anak mengalami demam tinggi yang tidak kunjung mereda selama lebih dari dua hari. Kondisi diare yang disertai muntah terus-menerus juga memerlukan penanganan cepat untuk mencegah dehidrasi.

Waspadai tanda fisik seperti tubuh lemas, mata cekung, serta penurunan frekuensi buang air kecil pada anak. Gejala lain yang tidak boleh diabaikan adalah sesak napas, napas berbunyi, hingga munculnya bintik merah atau perdarahan spontan pada kulit.

Kondisi kekeringan ini diprediksi meluas seiring peringatan BMKG mengenai penurunan curah hujan di bawah normal yang dimulai sejak Mei. Wilayah seperti Jawa Barat, Cilacap, hingga Kabupaten Sukabumi kini dalam status siaga menghadapi dampak kemarau tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi