Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengeluarkan peringatan serius bagi orang tua untuk mewaspadai risiko heat stroke pada anak di tengah cuaca panas ekstrem. Fenomena alam "El Nino Godzilla" yang memicu musim kemarau 2026 yang panjang meningkatkan risiko hipertermia, seperti dikutip dari Media Indonesia.
Hipertermia merupakan kondisi ketika suhu tubuh melonjak drastis hingga sistem pengatur suhu tubuh gagal berfungsi. Ketua Satgas Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim IDAI, Darmawan Budi Setyanto, menekankan bahwa pengaturan aktivitas luar ruangan dan pemenuhan cairan adalah kunci utama perlindungan anak.
Heat stroke bukan sekadar kepanasan biasa. Menurut dr. Darmawan, kondisi ini terjadi saat mekanisme regulasi suhu tubuh lumpuh akibat paparan panas lingkungan yang sangat tinggi.
Orang tua diminta segera bertindak jika anak menunjukkan tanda-tanda berikut:
- Suhu Tubuh Melonjak: Meningkat cepat hingga lebih dari 40 derajat Celcius.
- Kulit Panas Namun Kering: Tubuh tidak mengeluarkan keringat meskipun suhu sangat panas.
- Pernapasan Terganggu: Napas menjadi cepat dan dangkal.
- Gangguan Kesadaran: Pada kondisi berat, dapat memicu gangguan fungsi otak, kejang, hingga pingsan.
Cara Mencegah Heat Stroke Saat Cuaca Ekstrem
Anak-anak sering kali tidak menyadari bahwa mereka mengalami dehidrasi karena rasa haus terkadang muncul terlambat. IDAI menyarankan beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan oleh orang tua.
1. Budayakan Sering Minum Tanpa Menunggu Haus
Orang tua wajib membiasakan anak membawa bekal air minum dan meminumnya secara berkala.
"Air sangat penting untuk menjaga regulasi dan metabolisme tubuh agar tetap berfungsi baik," ujar dr. Darmawan.
Ia juga menyarankan pemberian air hangat dibandingkan minuman dingin yang sering diiklankan, dengan jargon: "Hangat lebih nikmat dan sehat."
2. Gunakan Pelindung Kepala
Saat beraktivitas di luar ruangan, pastikan anak menggunakan topi atau pelindung kepala lainnya. Hal ini efektif untuk mengurangi paparan langsung sinar matahari ke area kepala yang dapat mempercepat kenaikan suhu tubuh.
3. Batasi Aktivitas Luar Ruangan
Atur ulang jadwal kegiatan anak agar tidak berada di bawah terik matahari pada jam-jam puncak panas. Jika aktivitas luar ruangan tidak bisa dihindari, pastikan ada jeda istirahat di tempat yang teduh dan sejuk.
IDAI mengingatkan bahwa pencegahan dini jauh lebih baik daripada menangani kondisi heat stroke yang sudah masuk fase berat, karena dampaknya bisa sangat fatal bagi fungsi organ vital anak.