Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melayangkan kritik keras terhadap kebijakan penyediaan susu formula dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas oleh Badan Gizi Nasional (BGN) pada Kamis (21/5/2026). Kritik tersebut disampaikan melalui surat terbuka karena kebijakan distribusi massal ini dinilai berisiko menghentikan kebiasaan ibu menyusui.
Kritik tersebut diarahkan pada Petunjuk Teknis (Juknis) penyediaan gizi dari BGN yang memfasilitasi pembagian susu formula lanjutan untuk anak usia 6ÔÇô12 bulan dan formula pertumbuhan bagi usia 12ÔÇô36 bulan, seperti dilansir dari Nasional. Distribusi berskala besar tersebut kedapatan berjalan tanpa adanya proses penapisan indikasi medis yang ketat.
"Kebijakan distribusi susu formula massal yang berjalan hari ini, tanpa pemeriksaan dokter dan indikasi medis, berisiko membuat ibu-ibu Indonesia berhenti menyusui," tertulis surat terbuka, yang telah dikonfirmasi Ketua IDAI Piprim Basarah kepada Kompas.com, Kamis (21/5/2026).
Organisasi profesi dokter anak ini menekankan pentingnya Air Susu Ibu (ASI) yang memiliki kandungan gizi tidak tergantikan. Selain menjadi sumber nutrisi, komponen di dalam ASI juga berperan aktif sebagai benteng pertahanan tubuh anak.
"Zat kekebalan tubuh dari Ibu. Bakteri baik untuk usus. Sinyal pertumbuhan otak," tulis surat terbuka tersebut.
Aturan mengenai pemberian susu formula sebenarnya telah tercantum dalam regulasi resmi negara. IDAI mengingatkan bahwa berdasarkan UU Nomor 17 Tahun 2023 dan PP Nomor 28 Tahun 2024, produk formula hanya boleh diberikan berdasarkan rekomendasi dokter dan indikasi medis.
Ketua Satgas ASI IDAI Naomi Esthernita memberikan penjelasan tambahan mengenai keunggulan elemen hidup di dalam ASI. Keunikan struktur proteksi tersebut dipastikan tidak dapat ditiru oleh teknologi pembuatan susu buatan mana pun.
"ASI bukan sekadar makanan. Di dalamnya ada ratusan komponen bioaktif yang bekerja melindungi bayi dan anak. ASI juga berfungsi sebagai zat kekebalan tubuh dari ibu, bakteri baik untuk usus, juga sebagai sinyal pertumbuhan otak," jelas Naomi dalam siaran pers resmi, Kamis (21/5/2026).
Hingga saat ini, belum ada satu pun produk komersial yang berhasil menyamai kompleksitas nutrisi alami tersebut. Naomi mengingatkan agar kebijakan yang diambil pemerintah tidak sampai merugikan hak anak terhadap pemenuhan gizi terbaik.
"ASI adalah yang terbaik yang bisa dibuat manusia saat ini. Anak-anak kita butuh ASI, jangan sampai kebijakan yang tidak tepat membuat mereka kehilangan sesuatu yang penting," tutur dia.
Respons serupa disampaikan oleh Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI Piprim Basarah terkait arah kebijakan ini. Dia menyatakan pihaknya berkomitmen mengawal visi pemerintah dalam mengikis masalah stunting serta memperbaiki gizi nasional.
"Tugas kami hanya mengingatkan. Kami berharap setiap kebijakan gizi yang ada betul-betul berpihak pada anak. Negara harus hadir sebagai pelindung, bukan perantara bagi industri yang ingin mereduksi standar gizi anak bangsa," ucap Piprim.
Menanggapi sorotan tajam tersebut, Kepala BGN Dadan Hindayana memberikan klarifikasi resmi mengenai operasional program. Pihaknya menegaskan tetap memprioritaskan pemberian ASI dan menutup opsi pemberian susu formula bayi baru lahir hingga usia 6 bulan.
"BGN tidak membuka opsi susu formula bayi karena ingin mengutamakan ASI. Jadi mohon dicermati dengan lebih saksama," ujar Dadan saat dikonfirmasi Kompas.com, Kamis (21/5/2026).
Pihak BGN menjelaskan aturan pembagian komoditas ini tetap mengacu pada penilaian dari tenaga kesehatan di lapangan. Opsi yang tersedia hanya mencakup produk formula lanjutan dan pertumbuhan yang didasarkan pada hasil diagnosis kebutuhan.
"Minimal bidan atau puskesmas jika ASI tidak cukup untuk mendukung pertumbuhan," jelas dia.
Kebijakan pengadaan susu pendukung ini disesuaikan berdasarkan klasifikasi umur anak untuk menopang tumbuh kembang secara optimal. Pada tahap awal untuk usia 0-6 bulan, BGN berkomitmen menjaga kemurnian pemberian ASI eksklusif.
"BGN sekali lagi tidak membuka opsi susu formula bayi, hanya Lanjutan dan Pertumbuhan," ujar dia.
BGN mengkategorikan tahap kedua untuk formula lanjutan bagi anak berumur 6ÔÇô12 bulan sebagai pelengkap pendamping makanan inti. Sementara tahap ketiga berupa formula pertumbuhan ditujukan bagi balita berumur 1ÔÇô3 tahun ke atas.
"Diformulasikan sebagai pelengkap seiring dimulainya Makanan Pendamping ASI (MPASI) dengan tambahan protein, kalsium, dan zat besi," ucap dia.
Penyediaan zat makanan tambahan pada fase pertumbuhan aktif ini diproyeksikan untuk menyokong kebutuhan fisik harian balita. Pemenuhan gizi tersebut mendasari klasifikasi formula tahap ketiga di dalam petunjuk teknis.
"Berfungsi sebagai nutrisi pendukung untuk aktivitas dan masa pertumbuhan aktif mereka," tutur dia.