Hutan tropis di seluruh dunia dilaporkan kian mendekati titik kritisnya akibat ancaman bencana kekeringan yang semakin meluas dan intensif. Ekosistem ini juga dinilai kian sulit memulihkan diri dari dampak kekeringan jangka panjang.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran besar bahwa sebagian kawasan hutan dapat berbalik fungsi. Wilayah yang semula berperan sebagai penyerap karbon dioksida berpotensi melepaskan kembali polutan tersebut ke atmosfer bumi.
Fenomena ini terungkap dalam studi jurnal Geophysical Research Letters yang dikutip dari Lestari. Riset tersebut melandaskan analisisnya pada catatan iklim serta data pemantauan satelit selama hampir 40 tahun di wilayah tropis Amerika Selatan, Afrika, dan Asia Tenggara.
Dr. Shuai Cheng dari Eastern Institute of Technology China bersama timnya menemukan indikasi bahwa kerusakan vegetasi tropis akibat kekeringan terus melonjak sejak awal dekade 1980-an. Dampak paling signifikan terdeteksi pada kawasan hutan tropis di benua Afrika.
Para ilmuwan sejauh ini memahami bahwa ekosistem hutan tropis memegang peran vital dalam menstabilkan iklim bumi. Pohon-pohon menyerap karbon dioksida melalui proses fotosintesis, lalu menyimpannya dalam volume besar pada batang, akar, hingga tanah.
Secara kolektif, kawasan tropis mampu mereduksi miliaran ton karbon dioksida dari udara setiap tahun untuk menahan laju pemanasan global. Kendati demikian, mekanisme pertahanan alami ini menuntut kondisi hutan yang tetap sehat dan lestari.
Melalui metode baru yang mengombinasikan data iklim dan aktivitas tanaman dari tahun 1982 hingga 2019, peneliti mengukur respons fisik vegetasi. Hasilnya menunjukkan tumbuhan mengalami stres fisik hebat akibat minimnya air tanah dan kelembapan udara yang rendah.
Lebih dari separuh lonjakan kekeringan pada tanaman dipicu oleh penyusutan cadangan air tanah. Faktor utama pengikis volume air tersebut adalah kenaikan suhu global serta kondisi atmosfer yang semakin kering.
Wilayah Afrika mencatatkan perluasan kekeringan vegetasi paling parah. Kendati demikian, tren penurunan yang signifikan juga teramati di kawasan hutan Amazon dan Asia Tenggara.
Efek Domino dan Risiko Ambang Batas
Kekurangan pasokan air yang berlangsung secara kontinu memicu efek domino yang merusak pertahanan pohon. Tumbuhan bakal menutup stomata pada daun demi menahan sisa cairan agar tidak mati kekeringan.
Langkah penyelamatan darurat ini berdampak negatif karena membatasi volume karbon dioksida yang dapat diserap untuk fotosintesis. Jika situasi ini terus berlanjut, pertumbuhan pohon dipastikan melambat dan mempercepat gugurnya dedaunan.
Akumulasi tekanan tersebut meningkatkan mortalitas pohon serta membuat hutan rentan terhadap kebakaran, serangan penyakit, hingga kerusakan akibat badai. Kemampuan hutan dalam membersihkan polusi karbon pun otomatis melemah.
Para peneliti kini mengkhawatirkan kemunculan titik kritis, yaitu ambang batas yang jika terlampaui akan mengubah ekosistem secara instan dan permanen. Di Amazon, kombinasi pemanasan global dan deforestasi diprediksi mampu mengubah hutan hujan menjadi sabana gersang.
Meski riset tidak menyatakan ambang batas berbahaya telah terlampaui, intensitas kekeringan memberi sinyal bahwa vegetasi mulai menyentuh batas toleransi maksimumnya. Selain mengikat karbon, hutan tropis memengaruhi iklim melalui pelepasan uap air daun yang memicu hujan.
Ketidakpastian Pemodelan Iklim
Peneliti sempat mengomparasikan temuan lapangan dengan simulasi model iklim kontemporer. Namun, mayoritas model dinilai belum akurat dalam merekam interaksi rumit antara vegetasi, kelembapan tanah, dan atmosfer tropis.
Keterbatasan simulasi ini mempersulit proyeksi presisi mengenai respons hutan terhadap perubahan iklim di masa depan. Beberapa kawasan hutan mungkin memiliki fleksibilitas lebih tinggi, sementara wilayah lain diprediksi rusak lebih cepat.
Indikasi awal menunjukkan sebagian area Amazon mulai kehilangan efektivitasnya dalam menyimpan karbon, khususnya saat fase kekeringan ekstrem. Faktor kenaikan suhu dan anomali cuaca juga mempercepat kematian pohon di beberapa titik.
Kendati demikian, kerusakan masif dinilai masih dapat dicegah melalui kebijakan mitigasi yang tepat. Masa depan vegetasi global bergantung pada kecepatan restriksi emisi gas rumah kaca dan efektivitas penekanan laju deforestasi.
Perlindungan terhadap hutan yang masih utuh memegang peran kunci dalam menjaga imunitas ekosistem. Hutan alami yang minim intervensi manusia terbukti jauh lebih tangguh menghadapi kekeringan dibanding kawasan yang telah terfragmentasi oleh aktivitas pembalakan atau pertanian.