Kelompok Hizbullah meluncurkan lebih dari 15 drone peledak ke wilayah perbatasan utara Israel pada Selasa (26/5) waktu setempat. Serangan udara tanpa awak tersebut menyasar sejumlah instalasi militer dan memicu peningkatan eskalasi konflik di kawasan tersebut.
Sebagian besar pesawat tanpa awak itu dilaporkan berhasil meledak di area pangkalan militer, seperti dilansir dari Media Indonesia yang mengutip laporan Channel 12. Menanggapi situasi ini, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memberikan atensi khusus terhadap taktik udara kelompok perlawanan tersebut.
Ancaman dari serangan udara tanpa awak ini digambarkan oleh Netanyahu sebagai sebuah tantangan besar bagi pasukannya. Guna meredam situasi di perbatasan utara, solusi militer yang taktis dan cepat perlu segera diimplementasikan oleh jajaran komando.
"pukulan keras" kata Netanyahu, Perdana Menteri Israel.
Pasukan pertahanan Israel bergerak cepat dengan menggandeng sejumlah perusahaan pemasok dari negara-negara Eropa setelah serangan terjadi. Kerja sama bilateral ini bertujuan mempercepat pengiriman sistem pertahanan udara serta alat pelindung bagi tentara di perbatasan utara dan wilayah Libanon.
Pemasangan jaring pelindung dalam skala masif juga terus diupayakan demi menekan dampak kerusakan akibat ledakan bom udara. Langkah konvensional ini diambil di tengah pengakuan para pejabat keamanan mengenai adanya celah besar pada inovasi teknologi penangkal drone yang mereka miliki.
Operasi militer yang ditingkatkan di Libanon selatan sejak Selasa (26/5) dirasa belum mampu memberikan rasa aman bagi warga pemukiman utara Israel. Sementara itu, situasi kemanusiaan di Libanon dilaporkan terus mengalami penurunan pasca-serangan udara besar-besaran sejak 2 Maret lalu.
| Kategori Data | Keterangan / Jumlah |
|---|---|
| Jaring Pelindung Terpasang | > 250.000 meter persegi |
| Pesanan Jaring Tambahan | ┬▒ 280.000 meter persegi |
| Korban Jiwa (Libanon) | Hampir 3.200 orang |
| Korban Luka (Libanon) | > 9.600 orang |
| Warga Mengungsi | > 1,6 juta jiwa |
Meskipun kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat sudah berlaku sejak 17 April dan diperpanjang hingga awal Juli, realitas di lapangan menunjukkan ketegangan yang konstan. Gempuran harian masih terus dilancarkan oleh militer Israel di berbagai titik wilayah Libanon.