Sebuah studi dalam jurnal npj Climate and Atmospheric Science mengungkapkan bahwa hiu yang dipasangi sensor elektronik efektif berfungsi sebagai sensor berjalan untuk mengumpulkan data iklim laut di wilayah yang sulit dipantau. Temuan yang dipublikasikan pada Rabu (29/4/2026) ini menunjukkan bahwa data suhu dan kedalaman dari hiu meningkatkan akurasi prakiraan laut di Atlantik Barat Laut.
Penelitian ini menandai eksperimen pertama yang menggabungkan data sensor dari hewan ke dalam model iklim musiman, sebagaimana dilansir dari Lestari. Studi tersebut membuktikan pengaruh besar penggunaan data biologi terhadap ketajaman prediksi kondisi lautan di masa depan.
Peneliti dari Woods Hole Oceanographic Institution (WHOI), Laura H. McDonnell, Ph.D., menjelaskan bahwa predator laut ini mampu menjangkau area yang sulit dijangkau oleh metode observasi konvensional.
"Hiu sudah bergerak melewati bagian laut yang sulit kita amati," kata Laura H. McDonnell, Ph.D., peneliti dari Woods Hole Oceanographic Institution (WHOI).
McDonnell memberikan penegasan bahwa pengumpulan data tersebut mengisi celah informasi penting dalam sistem pemantauan laut.
"Penelitian ini menunjukkan bahwa data yang mereka kumpulkan dapat membantu mengisi celah-celah penting dan, jika digunakan secara hati-hati, dapat meningkatkan cara kita memprediksi kondisi lautan," terangnya.
Ilmuwan atmosfer di Rosenstiel School, Ben Kirtman, Ph.D., menambahkan bahwa hiu secara alami mencari area laut aktif seperti arus pertemuan dan pusaran air yang sering kekurangan data dalam model iklim.
"Predator laut seperti hiu secara alami mencari area laut yang aktif, seperti arus pertemuan (front) dan pusaran air (eddies). Padahal, area-area tersebut adalah lokasi yang sering kali kekurangan data pengamatan dalam model iklim kita," terang Ben Kirtman, Ph.D. ilmuwan atmosfer di Rosenstiel School.
Dalam pengujian ini, para peneliti memasang alat pelacak pada 18 hiu biru (Prionace glauca) dan satu hiu mako sirip pendek (Isurus oxyrinchus). Hewan-hewan tersebut berhasil mengirimkan lebih dari 8.200 profil suhu dan kedalaman hingga mencapai kedalaman hampir 2.000 meter.
Data yang dikirimkan secara langsung melalui satelit ini kemudian dibandingkan dengan model tradisional. Hasilnya menunjukkan peningkatan akurasi nyata, terutama di wilayah pesisir dan perairan dangkal yang menjadi tumpuan industri perikanan.
McDonnell menegaskan kembali bahwa integrasi sensor pada hewan ini tidak ditujukan untuk menggusur teknologi yang sudah ada.
"Hiu yang dipasangi sensor tidak akan menggantikan sistem pengamatan konvensional. Hasil awal ini menunjukkan bahwa predator laut tersebut dapat memberikan data tambahan yang diambil langsung di lokasi, baik di permukaan maupun di kedalaman laut," tambah McDonnell.
Pakar hiu Neil Hammerschlag, Ph.D., menyoroti pergeseran fungsi pemanfaatan data pelacakan hewan dari sekadar pemahaman perilaku menuju aplikasi praktis prakiraan cuaca.
"Hewan laut selama ini sudah dilacak untuk memahami perilaku mereka terhadap kondisi lingkungan, tetapi studi ini menunjukkan bagaimana data tersebut juga bisa dimanfaatkan untuk aplikasi iklim dan prakiraan cuaca," kata Neil Hammerschlag, Ph.D, ilmuwan hiu di Rosenstiel School.
Peningkatan akurasi prakiraan laut ini dianggap sangat krusial bagi masyarakat pesisir guna merencanakan pengelolaan sumber daya serta menentukan lokasi penangkapan ikan yang lebih efisien.