Pemerintah Indonesia memperkuat strategi hilirisasi industri untuk mengamankan ketahanan ekonomi nasional dari dampak meningkatnya ketegangan geopolitik global pada Minggu (19/4/2026). Langkah ini diambil sebagai respons terhadap potensi gangguan rantai pasok global akibat konflik di kawasan Timur Tengah.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa gangguan pada jalur strategis seperti Selat Hormuz dapat memicu kenaikan harga energi secara signifikan. Strategi ini bertujuan untuk memberikan bantalan bagi struktur ekonomi domestik dari gejolak eksternal, sebagaimana dilansir dari Money.
"Ketegangan geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah dan jalur strategis seperti Selat Hormuz, perlu diantisipasi karena berpotensi mengganggu rantai pasok global dan memicu kenaikan harga energi," ujar Airlangga dalam keterangannya pada Minggu (19/4/2026).
Ketahanan ekonomi Indonesia dinilai masih cukup solid dengan angka pertumbuhan sebesar 5,11 persen pada tahun 2025. Pemerintah memproyeksikan angka pertumbuhan ekonomi akan meningkat mencapai level 5,3 persen sepanjang tahun 2026 mendatang.
Indikator kekuatan ekonomi lainnya terlihat dari konsumsi domestik yang menyumbang sekitar 54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Selain itu, performa eksternal tetap terjaga melalui surplus neraca perdagangan yang berkelanjutan dan rasio utang luar negeri yang rendah.
Koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia juga ditingkatkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi pasar. Penguatan kebijakan fiskal dilakukan dengan mengoptimalkan penerimaan negara dan mengalihkan anggaran ke sektor-sektor yang lebih produktif.
Pada sektor energi, pemerintah mendorong implementasi biodiesel B50 dan pengembangan energi baru terbarukan guna memperkuat ketahanan energi nasional. Kerja sama internasional seperti IndonesiaÔÇôEU CEPA dan kemitraan dengan Rusia juga terus diperluas untuk diversifikasi risiko pasar.
"Ketegangan geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah dan jalur strategis seperti Selat Hormuz, perlu diantisipasi karena berpotensi mengganggu rantai pasok global dan memicu kenaikan harga energi," ujar Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.
Indonesia juga aktif berpartisipasi dalam forum global seperti Asia Zero Emission Community sebagai bagian dari rencana jangka panjang transisi energi bersih. Upaya ini diharapkan mampu menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian kondisi global saat ini.