Bisnis.com, JAKARTA - Isu tentang ÔÇ£hidden warÔÇØ atas rupiah yang undervalued kembali mengemuka. Lemahnya nilai tukar, fluktuatifnya arus modal, dan tekanan global kerap kali diartikulasikan sebagai bagian dari serangkaian serangan tersembunyi.
Tindakan senyap ini, tidak kelihatan, tetapi banyak isu yang beredar terdapat aktor yang memainkannya secara sistematis yang pada akhirnya menggambarkan kondisi perekonomian Indonesia yang seolah-olah tertekan berat, dan dapat meledak sewaktu-waktu. Kejadian ini selalu dikaitkan dengan krisis Finansial Asia 1997ÔÇö1998, yang menghancurkan perekonomian Indonesia, sebagai dampak krisis kembar, yaitu krisis keuangan dan krisis perbankan.
Beberapa kalangan tertentu ÔÇ£berdengungÔÇØ, bak kawanan tawon menyuarakan bahwa kejadian ini akan berulang kembali pada 2026. Alangkah naifnya, kalau analisis yang kita kemukakan sama cara teropongnya dengan kejadian krisis di tahun 1997ÔÇö1998. Maka tidak salah, kalau kita mempertanyakan: Bagaimana Indonesia bisa kuat dalam menghadapi tekanan dari sistem global, pada saat yang sama outstanding negara-negara sudah tidak netral lagi.
Banyak persepsi yang terekspos, bahwa krisis 1997ÔÇö1998 diartikulasikan sebagai aksi spekulan besar ÔÇ£George SorosÔÇØ yang melakukan penguasaan atas mata uang, sebagai instrumen perang mata uang terselubung (currency wars). Akibatnya, Indonesia mengalami krisis kembar.
Demi menyelamat perekonomian, pemerintah mengeluarkan biaya restrukturisasi (bailout) sebesar Rp658,72 triliun yang ekuivalen dengan 51,03% dari GDP Indonesia tahun 2000 dan merupakan biaya restrukturisasi keuangan terbesar di planet ini (Simatupang, 2007). Sebesar Rp430,4 triliun dialokasikan untuk biaya restrukturisasi perbankan melalui BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional), yang kita kenal dengan Obligasi Rekapitalisasi. Saat BPPN dibubarkan pada 27/02/2004, hanya 33% Ôëê Rp142,03 triliun dari Total Obligasi Rekapitalisasi yang berhasil dipulihkan dan disetorkan ke kas negara.
Menurut Simatupang (2007) dalam Risetnya ÔÇ£Bank Recapitalization, Bank Performance and Real Sector Lending: An Analysis of IndonesiaÔÇÖs Economic Recovery from the Crises of 1997ÔÇö1998ÔÇØ, dinyatakan bahwa hasil interaksi kompleks antara krisis mata uang, kelemahan perbankan, dan arus modal yang tidak stabil pada lemahnya struktur ekonomi, yang membuat ekonomi Indonesia ambruk.
Jadi, krisis bukan hasil satu serangan secara langsung, tetapi akumulasi kerentanan struktural yang pada saat krisis terjadi, tidak mampu menahan serangan. Awalnya, yang pertama dihancurkan adalah nilai tukar mata uang domestik, selanjutnya mengambil alih assets dengan harga at discount, terjadilah hostile takeover.
Saat ini, bentuk tekanan berubah, dimana serangan tidak hadir dalam bentuk serangan spekulatif yang frontal. Melainkan dalam bentuk tekanan sistemik yang bekerja melalui arsitektur keuangan global, yang dikenal dengan geoeconomic contestation.
Jika dibandingkan dengan 1997ÔÇö1998, saat ini, fondasi ekonomi Indonesia jauh lebih kuat. Cirinya, pertama, nilai tukar bersifat fleksibel, sehingga tidak mudah diserang secara satu arah, cadangan devisa relatif memadai US$148,15 miliar per Selasa (31/03/2026). Kedua, sistem perbankan lebih sehat, dengan regulasi dan pengawasan yang lebih ketat oleh OJK. Ketiga, kebijakan makroprudensial lebih aktif dan adaptif oleh Bank Indonesia.
Menilik krisis 1998, bahwa krisis berkembang menjadi sistemik karena lemahnya sektor perbankan dan kegagalan intermediasi. Kini, sektor perbankan justru menjadi salah satu sumber stabilitas. Dalam konteks ini, kini Indonesia memasuki ketahanan struktural 2.0, kendati tidak kebal atas terjadinya krisis, tetapi Indonesia lebih siap mengelola, bila krisis menghadang.
Ketahanan tidak berarti kebal atas tekanan. Dalam sistem keuangan global yang sarat dengan integrasi. Tekanan hadir dalam kesenyapan, dalam bentuk yang lebih halus, tetapi berdampak lebih masif dan luas.
Saya memperkirakan, terdapat tiga sumber utama kerentanan yang masih melekat, antara lain (1) Ketergantungan pada Arus Modal Global: Pasar keuangan Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh investor asing. Dalam kondisi global yang tidak pasti, arus modal dapat berubah arah dengan cepat, menciptakan volatilitas nilai tukar dan pasar obligasi; (2) Premi Risiko yang Persisten: Indonesia sebagai emerging market, masih dipandang memiliki risiko lebih tinggi dibanding negara maju. Persepsi ini tercermin dalam yield harus lebih tinggi dan sensitif atas perubahan global; dan (3) Transmisi Kebijakan Global: Keputusan yang diambil oleh Federal Reserve memiliki dampak langsung terhadap likuiditas global. Kenaikan suku bunga di AS dapat menarik modal keluar dari Indonesia tanpa adanya perubahan fundamental domestik.
Jika kosakata ÔÇ£hidden warÔÇØ tetap digunakan, perlu dimaknai ulang. Perang terselubung bukan hasil konspirasi. Sepanjang pengamatan saya, belum teridentifikasi aktor tunggal yang secara sengaja menjatuhkan rupiah. Sebaliknya, ÔÇ£perangÔÇØ dimaksud merupakan persaingan sistemik dalam memperebutkan likuiditas global, stabilitas, dan kepercayaan.
Dalam kancah ini, negara pada posisi lebih kuat akan menyerap lebih banyak modal. Di seberangnya, negara berkembang harus menawarkan imbal hasil lebih tinggi demi mempertahankan daya tarik. Jadi, rupiah bukan korban serangan, tetapi bagian dari mekanisme penyesuaian dalam sistem yang tidak sepenuhnya setara dan netral.
Jika ditarik dalam satu garis besar, kondisi Indonesia 2026 dapat ditegaskan dalam keadaan stabil secara internal, tetapi terekspos secara eksternal. Ini adalah kondisi yang berbeda dari 1997. Kala itu, masalah datang dari luar dan dalam. Hari ini, tekanan lebih banyak datang dari luar, tetapi dampaknya ditentukan oleh kekuatan internal.
Indonesia hari ini bukan ditentukan oleh kemampuannya menghindari tekanan, tetapi kemampuannya menyerap dan mengelola tekanan tersebut tanpa kehilangan stabilitas. Menghadapi dinamika ini, kebijakan tidak bisa berhenti pada stabilisasi jangka pendek, harus mempertimbangkan rentang horizon waktu menengah dan panjang, agar tetap sustain.
Intervensi pasar dan pengelolaan suku bunga memang penting, tetapi tak cukup. Pendalaman pasar keuangan domestik, mengurangi ketergantungan pada modal jangka pendek, meningkatkan daya saing sektor riil, serta memperkuat kredibilitas kebijakan jadi lebih krusial. Tujuannya menurunkan premi risiko secara struktural.
Indonesia hari ini tidak lagi rapuh seperti 1997. Namun, tantangan yang dihadapi juga berbeda, lebih kompleks dan lebih tersembunyi. Dalam dunia yang ditandai oleh geoeconomic contestation, ketahanan bukan berarti bebas dari tekanan. Ia berarti mampu bertahan tanpa panik, dan beradaptasi tanpa ilusi.