Hasan Nasbi Kritik Tajam Plesetan SPPG, Sebut Istilah 'Penjilat' Mengejutkan

Hasan Nasbi Kritik Tajam Plesetan SPPG, Sebut Istilah 'Penjilat' Mengejutkan
Foto: Hasan Nasbi Kritik Tajam Plesetan SPPG, Sebut Istilah 'Penjilat' Mengejutkan. (Illustration by Pexels)

Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, melontarkan kritik pedas terhadap pihak-pihak yang memplesetkan singkatan Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG). Ia merasa keberatan dengan sebutan "Satuan Penjilat Prabowo-Gibran" yang disematkan kepada program tersebut.

Menurut Hasan, pelabelan negatif semacam itu membuktikan adanya pola pikir yang tidak berlandaskan pada fakta yang ada. Ia menyayangkan fenomena di ruang digital saat ini yang cenderung lebih cepat memproduksi sikap sinis dibandingkan memeriksa kebenaran informasi.

Hasan Nasbi mengungkapkan keprihatinannya melalui unggahan video di akun Instagram pribadinya pada Senin (1/6). Ia menilai bahwa nalar publik sering kali menjadi korban akibat penyebaran narasi yang tidak bertanggung jawab.

Pernyataan kritis Hasan Nasbi terkait plesetan nama program tersebut:

  • Ada pihak yang menyebut SPPG sebagai satuan penjilat Prabowo-Gibran, yang menurutnya adalah nalar yang sedang didiskon.
  • Pelabelan tersebut dianggap sebagai sikap yang sok tahu namun mengabaikan kenyataan objektif di lapangan.

Hasan menegaskan bahwa SPPG merupakan komponen vital dalam ekosistem program nasional untuk pemenuhan gizi masyarakat. Program ini dirancang untuk menjangkau puluhan juta warga di seluruh pelosok Indonesia secara merata.

Lebih lanjut, ia merinci bahwa target utama dari pelayanan gizi ini mencakup sekitar 62 juta penerima manfaat. Kelompok tersebut terdiri dari anak-anak sekolah, balita, serta ibu hamil dan ibu menyusui yang membutuhkan asupan nutrisi berkualitas.

Selain aspek kesehatan, Hasan menjelaskan bahwa program ini membawa dampak positif yang besar terhadap sektor ekonomi nasional. Hal ini dikarenakan SPPG membuka lapangan pekerjaan bagi sekitar 1,5 juta orang yang bertugas di dapur-dapur pelayanan gizi.

Berikut adalah rincian cakupan dan dampak dari program SPPG menurut data pemerintah:

Aspek Program Detail Informasi
Total Penerima Manfaat Sekitar 62 juta orang di seluruh Indonesia.
Kategori Penerima Anak sekolah, balita, ibu hamil, dan menyusui.
Tenaga Kerja Terserap 1,5 juta pekerja di unit dapur pelayanan.
Tujuan Utama Pemenuhan gizi nasional dan penguatan ekonomi rakyat.

Hasan menilai bahwa tudingan politik yang menyerang SPPG secara otomatis juga menghina jutaan orang yang bekerja di dalamnya. Ia mengingatkan agar semua pihak lebih berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan di ruang publik.

Ia menegaskan bahwa menyebut SPPG sebagai satuan penjilat sama saja dengan menghina 1,5 juta warga yang sedang berjuang mencari nafkah di dapur pelayanan. Tak hanya itu, sebutan tersebut juga dianggap merendahkan martabat 62 juta penerima bantuan gizi.

Hasan berpendapat bahwa tuduhan tanpa data tidak hanya merusak citra program pemerintah, tetapi juga menutup mata terhadap kontribusi nyata para pekerja. Ia mendesak masyarakat untuk lebih kritis dalam menyaring informasi yang beredar di media sosial.

Ia menekankan pesan agar publik jangan sampai mengabaikan fakta dan kebenaran demi kepentingan tertentu. Hasan juga menganalogikan informasi layaknya makanan yang harus dikunyah dengan baik sebelum ditelan atau dipercayai.

Hasan Nasbi memberikan saran kepada masyarakat dalam mengelola informasi sebagai berikut:

  • Luangkan waktu untuk meresapi informasi yang masuk dan cari tahu sumber kebenarannya.
  • Periksa apakah fakta yang disajikan sesuai dengan realita yang telah terjadi atau hanya narasi buatan.
  • Jangan biarkan kemampuan berpikir logis atau nalar menjadi tumpul karena terpengaruh provokasi.

Hasan menambahkan sebuah sindiran halus bahwa cukup harga barang atau tas saja yang mendapatkan potongan harga. Namun, nalar dan akal sehat manusia tidak boleh didiskon hanya karena terbawa arus opini yang keliru.

Ia juga menyoroti kebiasaan buruk merespons segala sesuatu dengan kemarahan dan kebencian yang dapat merusak kualitas diskusi di ruang publik. Baginya, pembangunan Indonesia membutuhkan suasana yang kondusif dan pemikiran yang jernih.

Menutup pernyataannya, Hasan mengingatkan bahwa persatuan dan kesatuan adalah kunci utama dalam membangun sebuah negara yang besar. Sentimen negatif yang dipelihara terus-menerus hanya akan menghambat kemajuan bangsa di masa depan.

Hasan berkeyakinan bahwa Indonesia tidak bisa didirikan di atas fondasi kemarahan apalagi kebencian antar sesama warga. Hanya melalui kerja sama dan rasa saling menghargai, cita-cita pembangunan nasional dapat tercapai dengan baik.

Artikel terkait

Rekomendasi