Pemerintah menetapkan harga token listrik untuk periode 23ÔÇô26 April 2026 tetap mengacu pada tarif triwulan II-2026. Pelanggan prabayar PLN disarankan memantau sisa energi agar aliran listrik rumah tidak terhenti mendadak.
Dikutip dari Money, penyesuaian tarif nonsubsidi biasanya dilakukan tiga bulan sekali dengan melihat kurs rupiah, inflasi, serta harga energi global. Namun, untuk periode April ini, harga tetap stabil tanpa ada kenaikan.
Besaran tarif dasar listrik (TDL) menjadi penentu utama jumlah kilowatt hour (kWh) yang didapatkan pelanggan saat membeli token. Berikut adalah rincian tarif untuk berbagai golongan daya rumah tangga nonsubsidi:
| Golongan Daya Listrik | Tarif per kWh |
|---|---|
| 900 VA (R-1/TR) | Rp 1.352 |
| 1.300 VA (R-1/TR) | Rp 1.444,70 |
| 2.200 VA (R-1/TR) | Rp 1.444,70 |
| 3.500ÔÇô5.500 VA (R-2/TR) | Rp 1.699,53 |
| 6.600 VA ke Atas (R-3/TR) | Rp 1.699,53 |
Cara Menghitung Perolehan kWh Token Listrik
Jumlah energi yang masuk ke meteran listrik dipengaruhi oleh pajak penerangan jalan (PPJ) yang berbeda di tiap daerah. Rumus penghitungannya adalah nominal beli dikurangi PPJ, lalu dibagi tarif dasar per kWh.
Sebagai contoh, simulasi untuk pelanggan daya 1.300 VA di wilayah Jakarta yang dikenakan PPJ sebesar 3 persen adalah sebagai berikut:
Pembelian Token Rp 50.000
Pada nominal Rp 50.000, potongan PPJ 3 persen mencapai Rp 1.500, sehingga saldo bersih yang tersisa adalah Rp 48.500. Dengan tarif Rp 1.444,70 per kWh, maka total energi yang didapat adalah 33,57 kWh.
Pembelian Token Rp 100.000
Jika pelanggan membeli token sebesar Rp 100.000, potongan PPJ berjumlah Rp 3.000 dengan sisa saldo bersih Rp 97.000. Melalui perhitungan tarif yang sama, jumlah kWh yang diperoleh pelanggan mencapai 67,14 kWh.