Aktivitas penjualan hewan ternak di Kabupaten Sleman dilaporkan meningkat signifikan menjelang Hari Raya Idul Adha pada Selasa (5/5/2026). Dilansir dari Cahaya, tingginya permintaan masyarakat memicu kenaikan harga sapi di tingkat peternak meski dinilai masih dalam batas kewajaran.
Kenaikan harga tercatat mencapai kisaran Rp1 juta per ekor di Kelompok Ternak Karya Tunggal, Kalurahan Balecatur, Kapanewon Gamping. Saat ini, harga rata-rata sapi kurban berada pada rentang Rp25 juta hingga Rp28 juta per ekor tergantung jenisnya.
Sekretaris Kelompok Ternak Karya Tunggal, Trisno Dul Rahman menjelaskan bahwa penyesuaian harga tersebut tidak terlepas dari momentum hari besar keagamaan. Jenis sapi Peranakan Ongole (PO) dan Limousin saat ini menempati harga tertinggi di pasar lokal.
"Harganya mundak (naik) sedikit, kurang lebih Rp1 juta per ekor," katanya, Selasa (5/5/2026).
Minat pembeli yang didominasi warga lokal dari Balecatur hingga Godean sudah muncul sejak dua bulan lalu melalui sistem uang muka. Trisno menambahkan bahwa sapi jenis Limousin menjadi primadona karena kualitas dagingnya yang padat.
"Kalau yang banyak dicari jenis Limousin karena dagingnya lebih padat. Pembelinya dari warga lokal saja sekitar Balecatur. Ada juga dari Sidoarum, Godean," imbuhnya.
Berdasarkan data Dinas Pertanian, Peternakan dan Pangan (DP3) Sleman, wilayah tersebut masih mengalami defisit ketersediaan ternak. Kebutuhan sapi kurban mencapai 9.235 ekor, namun stok yang tersedia saat ini baru menyentuh angka 3.854 ekor.
Plt Kepala DP3 Sleman, Rofiq Andriyanto menyatakan bahwa pemerintah daerah akan membuka akses bagi pedagang luar daerah untuk memenuhi kekurangan ribuan ekor sapi dan domba. Selain itu, pemantauan kesehatan akan dilakukan di ratusan titik pasar tiban.
"Untuk menutupi kekurangan sapi dan domba, kami membuka keran bagi pedagang untuk mendatangkan ternak dari luar Sleman. Kami juga akan memonitor pasar tiban yang diprediksi muncul 300 titik. Nanti dua minggu menjelang Idul Adha, kami mulai muter untuk memonitoring pasar tiban. Kami muter untuk memastikan kesehatan hewannya," kata dia.
Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) juga mulai menyisir lokasi penjualan ternak hingga Pasar Hewan Ambarketawang. Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa menegaskan fokus utama pemerintah adalah ketersediaan stok dan jaminan kesehatan hewan.
"Fokus kami memantau terkait kesehatan hewan. Kalau harga, mudah-mudahan meskipun ada kenaikan, tapi tidak memberatkan masyrakat untuk melaksanakan kurban dan tetap terjangkau. Stok ketersediaannya juga diharapkan bisa tercukupi," kata dia.