Harga Minyak Dunia Naik Imbas Ketegangan AS dan Iran di Teluk Persia

Harga Minyak Dunia Naik Imbas Ketegangan AS dan Iran di Teluk Persia
Foto: Ilustrasi Harga Minyak Dunia Naik Imbas Ketegangan AS dan Iran di Teluk Persia.

Harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan pada perdagangan Jumat (8/5/2026) setelah eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memuncak di kawasan Teluk Persia. Gejolak geopolitik ini memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global di tengah upaya gencatan senjata.

Dilansir dari Money melalui data Reuters, harga minyak jenis Brent mencatat penguatan sekitar 1 persen hingga menyentuh level 101 dollar AS per barrel di pasar Asia. Situasi ini terjadi saat investor sedang memantau dengan saksama peluang perdamaian di Timur Tengah yang kembali terganggu.

Kenaikan harga komoditas ini didorong oleh bentrokan terbaru antara militer AS dan Iran di Teluk Persia serta serangan yang kembali menimpa Uni Emirat Arab. Meskipun kondisi memanas, pasar menilai kedua belah pihak masih berupaya menahan diri agar konflik bersenjata tidak meluas menjadi perang terbuka.

Kondisi ini turut memengaruhi pergerakan aset lainnya, di mana imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke level 4,39 persen karena kekhawatiran inflasi. Global Market Strategist J.P. Morgan Asset Management, Kerry Craig, memberikan gambaran mengenai sentimen yang saat ini mendominasi para pelaku pasar global.

"Fokus pasar masih pada kuatnya pendapatan perusahaan di AS," ujar Craig.

Strategis pasar tersebut menjelaskan bahwa investor menyikapi positif langkah diplomasi yang sedang berjalan untuk mengamankan jalur perdagangan internasional. Para pelaku pasar berharap ada kesepakatan sementara yang mampu menjamin keamanan lalu lintas kapal di Selat Hormuz.

Di sektor pasar modal, bursa saham Asia menunjukkan tren positif yang didorong oleh tingginya permintaan pada sektor kecerdasan buatan (AI). Kenaikan signifikan terlihat pada indeks KOSPI Korea Selatan yang berpotensi mencatat penguatan mingguan terbesar sejak 2008 berkat performa produsen chip seperti Samsung dan SK Hynix.

Sementara itu, bursa saham Eropa dan kontrak berjangka di AS bergerak bervariasi dengan kecenderungan hati-hati. Investor saat ini tengah menanti rilis data tenaga kerja non-farm payrolls AS bulan April yang diprediksi oleh ekonom melalui survei Reuters hanya bertambah sebanyak 62.000 pekerjaan.

Selain faktor energi dan tenaga kerja, pasar global juga memperhatikan dinamika politik di Inggris serta putusan pengadilan perdagangan AS terkait tarif impor. Ketidakpastian politik di Inggris pasca pemilu lokal dikhawatirkan dapat memicu pengalihan investasi dari pasar obligasi Inggris ke alternatif lain.

Artikel terkait

Rekomendasi