Aksi jual besar-besaran melanda pasar saham Asia pada Jumat (15/5/2026) dipicu oleh lonjakan tajam harga minyak dunia dan mandeknya negosiasi diplomatik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kondisi ini memperparah kekhawatiran investor terhadap potensi kenaikan inflasi global serta tekanan suku bunga yang terus membayangi pasar keuangan regional.
Dilansir dari Investasi, indeks saham negara berkembang Asia versi MSCI mencatatkan penurunan hampir 2 persen, di mana pasar Korea Selatan menjadi yang paling terdampak. Indeks KOSPI anjlok lebih dari 6 persen setelah saham raksasa teknologi seperti Samsung Electronics dan SK Hynix masing-masing merosot 8,6 persen dan 7,7 persen.
Koreksi ini muncul setelah pasar sempat menikmati reli panjang sejak akhir Maret dengan penguatan indeks regional mencapai hampir 20 persen. Penguatan tersebut sebelumnya didasari oleh ekspektasi perdamaian di Timur Tengah yang kini kembali meredup akibat gangguan perdagangan di Selat Hormuz.
Senior Asia and Global EM Equities Investment Specialist BNP Paribas Asset Management, Song Zhe, memberikan penilaian bahwa tekanan pasar saat ini merupakan bentuk penyesuaian setelah kenaikan signifikan pada bulan lalu.
"Pasar sedang mencerna kenaikan tajam sebelumnya, bukan sepenuhnya berubah menjadi risk-off secara luas," ujar Song Zhe.
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh hasil kunjungan kenegaraan Presiden AS Donald Trump ke China untuk bertemu Presiden Xi Jinping. Meski kedua pemimpin sepakat menolak kepemilikan senjata nuklir oleh Iran, lambatnya progres negosiasi bilateral tetap menjadi fokus utama para pelaku pasar modal.
Kekhawatiran mengenai dampak energi terhadap stabilitas ekonomi global disampaikan oleh Senior Financial Market Analyst Capital.com, Kyle Rodda, yang menyoroti arah suku bunga ke depan.
ÔÇ£Kekhawatiran terbesar ada pada dampak harga energi yang lebih tinggi terhadap inflasi dan suku bunga,ÔÇØ kata Kyle Rodda.
Di Asia Tenggara, bursa saham Thailand terkoreksi 1,1 persen, diikuti Filipina sebesar 0,6 persen, dan Taiwan yang turun 1,4 persen akibat pelemahan saham TSMC. Pasar Malaysia juga mengalami pelemahan sekitar 0,4 persen meskipun data ekonomi kuartal I-2026 menunjukkan pertumbuhan yang melampaui proyeksi awal.
Tekanan tambahan bagi mata uang regional datang dari penguatan indeks dolar AS yang menuju catatan mingguan terbaiknya sejak Maret. Kondisi ini menyebabkan nilai tukar won Korea Selatan dan peso Filipina diprediksi mengalami pelemahan mingguan sekitar 2 persen terhadap greenback.