Harga Minyak Dunia Berfluktuasi Akibat Dinamika Konflik Iran-Amerika

Harga Minyak Dunia Berfluktuasi Akibat Dinamika Konflik Iran-Amerika
Foto: Ilustrasi Harga Minyak Dunia Berfluktuasi Akibat Dinamika Konflik Iran-Amerika.

Fluktuasi harga minyak mentah dunia terjadi pada perdagangan Kamis (7/5/2026) seiring dengan perkembangan upaya penyelesaian konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Dilansir dari Detik Finance, harga patokan global Brent mengalami penurunan hingga ke bawah level US$ 100 per barel akibat munculnya harapan pembukaan kembali jalur perdagangan di Selat Hormuz.

Data pasar yang dikutip dari CNBC menunjukkan minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli merosot 1,85 persen menjadi US$ 99,40 per barel pada Kamis (7/5/2026). Sebaliknya, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat kontrak Juni justru menguat 1,85 persen ke posisi US$ 93,21 per barel di hari yang sama.

Ahli strategi ekuitas Citi AS, Scott Chronert, menjelaskan bahwa gejolak harga ini merefleksikan penilaian investor terhadap durasi ketegangan di Timur Tengah. Menurutnya, lamanya konflik akan menjadi faktor krusial bagi proyeksi ekonomi dunia dan kebijakan moneter di masa depan.

"Durasi konflik dan implikasinya terhadap harga minyak yang lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama merupakan hal penting terkait ekspektasi pertumbuhan di masa depan bagi banyak bagian pasar, serta bagaimana hal itu memengaruhi pemikiran The Fed dalam hal dinamika suku bunga," kata Chronert, Ahli Strategi Ekuitas Citi AS.

Sentimen penurunan harga dipicu oleh laporan pengiriman nota kesepahaman satu halaman dari Amerika Serikat kepada Iran melalui perantara Pakistan guna mengakhiri perang secara formal. Namun, kekhawatiran pasar tetap terjaga setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan peringatan keras melalui media sosialnya.

"Jika mereka tidak mencapai kesepakatan, pemboman akan dimulai, dan sayangnya, akan terjadi pada tingkat dan intensitas yang jauh lebih tinggi daripada sebelumnya," ujar Trump, Presiden Amerika Serikat.

Pernyataan tersebut merujuk pada Operation Epic Fury yang akan dihentikan jika Iran menyetujui poin-poin kesepakatan damai. Jika tercapai, blokade laut di Teluk Oman akan dicabut sehingga jalur Selat Hormuz dapat beroperasi normal bagi seluruh pihak.

Menanggapi situasi tersebut, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan bahwa Teheran masih meninjau proposal yang diajukan. Ia menekankan pentingnya proses negosiasi yang jujur dan tanpa adanya paksaan dari pihak mana pun.

"Konsep 'negosiasi' setidaknya membutuhkan upaya tulus untuk terlibat dalam diskusi dengan tujuan menyelesaikan sengketa. Oleh karena itu, dibutuhkan 'itikad baik', yang berarti bahwa 'negosiasi' bukanlah 'perselisihan'; juga bukan 'dikte', 'penipuan', 'pemerasan' atau 'pemaksaan'," tulis Baqaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran.

Artikel terkait

Rekomendasi