Harga Minyak Dunia Berfluktuasi Akibat Ketegangan Militer AS dan Iran

Harga Minyak Dunia Berfluktuasi Akibat Ketegangan Militer AS dan Iran
Foto: Ilustrasi Harga Minyak Dunia Berfluktuasi Akibat Ketegangan Militer AS dan Iran.

Harga minyak mentah dunia mengalami fluktuasi signifikan setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam empat tahun pada perdagangan akhir pekan, Jumat (1/5/2026), akibat meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.

Dilansir dari Money, kontrak minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli tercatat menguat 1,11 persen ke posisi 111,63 dollar AS per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) AS naik 0,45 persen menjadi 105,54 dollar AS per barel.

Lonjakan harga ini dipicu oleh berakhirnya tenggat waktu 60 hari dari Kongres AS terkait War Powers Resolution yang membatasi wewenang militer Presiden Donald Trump di Iran sejak notifikasi resmi dikirimkan pada 2 Maret lalu.

Seorang pejabat pemerintah Amerika Serikat memberikan penjelasan mengenai status hukum operasi militer tersebut dengan merujuk pada kesepakatan gencatan senjata yang telah terjalin.

"Untuk tujuan War Powers Resolution, permusuhan yang dimulai pada Sabtu, 28 Februari, telah berakhir," kata pejabat tersebut.

Pihak Gedung Putih berpendapat bahwa tidak adanya kontak senjata langsung sejak 7 April membuat batasan waktu dari Kongres tidak lagi berlaku untuk melanjutkan keterlibatan militer di kawasan tersebut.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth turut memperkuat posisi pemerintah dalam sebuah persidangan resmi dengan Komite Angkatan Bersenjata DPR AS baru-baru ini.

Hegseth menyampaikan pembelaan bahwa status perang telah berhenti secara efektif berkat adanya gencatan senjata antara kedua belah pihak.

Meskipun operasi militer darat sedang mereda, Presiden Trump terpantau meningkatkan tekanan ekonomi melalui penegasan blokade maritim terhadap Teheran pada Rabu (29/4/2026).

Di lain pihak, ancaman balasan muncul dari militer Iran sebagai respons atas keberadaan pasukan serta tekanan blokade yang dilakukan oleh pihak Washington.

Seorang pejabat senior Garda Revolusi Iran dilaporkan mengancam akan melancarkan serangan "panjang dan menyakitkan" terhadap posisi AS jika Washington kembali menyerang Iran.

Hingga saat ini, Iran masih menolak untuk membuka kembali akses Selat Hormuz selama Amerika Serikat belum mencabut blokade ekonomi terhadap pelabuhan-pelabuhan utama mereka.

Artikel terkait

Rekomendasi