Harga Biji Kopi Arabika Domestik Melonjak hingga 40 Persen

Harga Biji Kopi Arabika Domestik Melonjak hingga 40 Persen
Foto: Ilustrasi Harga Biji Kopi Arabika Domestik Melonjak hingga 40 Persen.

Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) melaporkan adanya kenaikan harga biji kopi arabika di pasar domestik sebesar 30 hingga 40 persen pada Jumat (24/4/2026). Lonjakan harga ini dipicu oleh gangguan masa panen serta kerusakan lahan perkebunan di wilayah Sumatra.

Ketua Kompartemen Industri dan Specialty Coffee AEKI, Moelyono Soesilo, memaparkan bahwa nilai jual biji arabika merangkak naik dari posisi 6,5 dollar AS per kilogram menjadi kisaran 9,3 hingga 9,5 dollar AS per kilogram. Jika dikonversi dengan kurs Rp 17.245 per dollar AS, harga tersebut setara dengan Rp 160.378 hingga Rp 163.827 per kilogram.

Kenaikan signifikan ini sempat menyentuh angka yang lebih tinggi pada awal tahun ini di pasar lokal. Fenomena tersebut menjadikan harga komoditas ini melambung jauh di atas harga rata-rata tahun sebelumnya, sebagaimana dilansir dari Money.

"Sempat mencapai level tertingginya pada bulan Januari 2026 di level 10 dollar AS (per kilogram) lebih," kata Moelyono saat dihubungi Kompas.com, Jumat (24/4/2026).

Moelyono menjelaskan bahwa kondisi pasar saat ini merupakan sebuah anomali karena tidak sejalan dengan tren global. Secara umum, harga biji kopi jenis robusta di dalam negeri serta harga arabika di pasar internasional justru menunjukkan tren penurunan.

"Untuk kopi biji arabika Indonesia mengalami anomali berbeda, terjadi kenaikan, berbalik dengan harga kopi biji arabika dunia yang menurun juga," ujar Moelyono.

Penyebab utama lonjakan harga ini berakar dari bencana alam yang melanda Aceh dan Sumatra Utara pada akhir November 2025. Banjir bandang dan tanah longsor di wilayah Gayo Lues menyebabkan kerusakan masif pada area perkebunan kopi di daerah tersebut.

"Kenaikan ini terjadi karena gangguan panen dan kerusakan perkebunan kopi," tutur Moelyono.

Meskipun kerusakan terpusat di Gayo Lues, efek domino meluas ke daerah penghasil kopi lainnya di Indonesia. Hal ini mengakibatkan keterbatasan pasokan secara menyeluruh di pasar lokal, meski kenaikan harga di luar Aceh tidak secepat wilayah terdampak utama.

"Tapi kenaikan tidak setinggi kopi-kopi dari daerah Aceh dan Sumut," kata Moelyono.

Saat ini, para petani di wilayah terdampak banjir dan tanah longsor tersebut sudah mulai melakukan upaya pemulihan. Sebagian lahan perkebunan yang rusak kini telah memasuki tahap penanaman kembali untuk memulihkan kapasitas produksi nasional.

"Sudah ada replanting di sebagian daerah," tuturnya.

Artikel terkait

Rekomendasi