Harga Emas Dunia Melesat Jelang Negosiasi AS-Iran, Rekor Terbaru 2026 yang Mengejutkan

Harga Emas Dunia Melesat Jelang Negosiasi AS-Iran, Rekor Terbaru 2026 yang Mengejutkan
Foto: Harga Emas Dunia Melesat Jelang Negosiasi AS-Iran, Rekor Terbaru 2026 yang Mengejutkan. (Illustration by Pexels)

Harga emas global menunjukkan peningkatan selama dua hari berturut-turut pada Jumat, 29 Mei 2026. Meskipun begitu, secara bulanan, harga emas masih tertekan akibat kekhawatiran inflasi serta ekspektasi kenaikan suku bunga yang membayangi sentimen pasar.

Seperti dilansir CNBC pada Sabtu (30/5/2026), harga emas spot mengalami kenaikan 0,6 persen hingga mencapai angka US$ 4.519,64 per ounce. Sebelumnya, pada Kamis minggu ini, harga sempat merosot ke level terendah dua bulan di US$ 4.356,76 sebelum akhirnya menutup lebih tinggi.

Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus meningkat 0,4% menjadi US$ 4.550. Sementara itu, harga perak spot turun 0,2% menjadi US$ 75,51 per ounce, meskipun secara bulanan diperkirakan naik. Platinum stabil di leve...US$ 1.923,55, sedangkan palladium naik 0,6% hingga menjadi US$ 1.375,57, meski turun lebih dari 9% sepanjang bulan ini.

Sebuah kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi memperpanjang gencatan senjata mereka selama 60 hari. Namun, Presiden AS Trump belum memberikan persetujuan atas perjanjian ini, sementara media pemerintah Iran melaporkan perjanjian tersebut belum final.

Chief Market Strategist Blue Line Futures, Philip Streible, mengungkapkan bahwa optimisme terhadap perpanjangan gencatan senjata turut mendukung penurunan harga minyak dan dolar AS, yang akhirnya mengangkat harga emas batangan.

Indeks dolar AS cenderung menurun dalam seminggu, membuat logam mulia berdenominasi dolar lebih terjangkau bagi pembeli internasional.

Namun, Streible mencatat bahwa harapan terhadap suku bunga yang tinggi dalam jangka panjang tetap ada. Pasalnya, gangguan pada pengiriman dan infrastruktur energi bisa menyebabkan harga minyak tinggi dan Federal Reserve tetap berhati-hati.

Permintaan emas di India melemah

Pada Kamis lalu, data memperlihatkan inflasi AS melonjak pada tingkat tercepat dalam tiga tahun terakhir di bulan April, dipicu oleh harga energi yang lebih tinggi karena perang Iran. Hal ini memperkuat ekspektasi bahwa Fed akan mempertahankan suku bunga tidak berubah hingga tahun depan.

Suku bunga lebih tinggi meningkatkan biaya peluang untuk memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil. Harga emas spot telah turun lebih dari 2% bulan ini, sementara permintaan emas di India masih lesu akibat harga yang lebih tinggi dan bea impor.

Di lain pihak, premi di pasar utama China menyempit dengan sentimen yang hati-hati dari konsumen. Harga emas di Galeri 24 pada Kamis (16/10/2025) tercatat Rp2.418.000 per gram, mengalami kenaikan dari Rp2.393.000 per gram.

Sebelumnya, harga emas global sedikit pulih pada perdagangan Kamis, 28 Mei 2026. Tekanan terhadap harga emas terjadi setelah rilis data inflasi AS pada April 2026. Namun, harga masih melemah selama tiga sesi berturut-turut karena skeptisisme seputar kesepakatan AS-Iran yang membayangi prospek suku bunga.

Disitat dari CNBC, Jumat (29/5/2026), harga emas spot turun 0,6% menjadi US$ 4.428,69 per ounce setelah jatuh ke titik terendah sejak akhir Maret pada awal sesi perdagangan. Kontrak berjangka emas AS juga mengalami penurunan 0,5% menjadi US$ 4.426,20.

Harga perak spot mengalami pelemahan sebesar 1,2% menjadi US$ 73,69 per ounce, sementara platinum turun 1,6% menjadi US$ 1.887,75. Palladium juga jatuh 3,1% menjadi US$ 1.347,31.

Bart Melek, Global Head of Commodity Strategy TD Securities, menyatakan bahwa data ini memberikan sedikit kelonggaran bagi emas. The Fed mungkin lebih memilih untuk mempertahankan suku bunga saat ini daripada menetapkan kebijakan yang lebih ketat.

Melek menambahkan bahwa emas masih bisa mengalami tren penurunan signifikan. Bahkan jika perang berhenti sekarang, harga energi bisa tetap tinggi karena rapat Fed 28-29 April menunjukkan banyak pejabat yang terbuka untuk kemungkinan menaikkan suku bunga.

Tantangan bagi Emas

Soal ketidakstabilan geopolitik, emas memiliki daya tarik sebagai aset aman, meskipun sayangnya berkinerja buruk ketika suku bunga naik. Investor cenderung beralih ke aset yang menghasilkan imbal hasil lebih baik.

Fawad Razaqzada, analis pasar di City Index, mengatakan bahwa isu geopolitik tidak beroperasi secara terisolasi saat ini. Kenaikan harga energi menyebabkan kekhawatiran inflasi, menaikkan imbal hasil obligasi pemerintah dan menguatkan dolar pada saat bersamaan.

Dalam hal geopolitik, Iran menargetkan pangkalan udara AS setelah serangan Amerika Serikat pada operasi drone Iran di dekat Selat Hormuz. Presiden Donald Trump menolak kesepakatan kompromi yang dilaporkan dengan Teheran.

Artikel terkait

Rekomendasi