Nilai tukar Bitcoin tercatat mengalami penguatan setelah Komite Perbankan Senat Amerika Serikat mendorong pemungutan suara terkait Undang-Undang Klarifikasi Pasar Aset Digital atau Clarity Act pada Jumat (15/5/2026).
Aset kripto ini menguat 0,87 persen dalam 24 jam terakhir ke level 80.489 dolar AS pada pukul 13.30 WIB, sebagaimana dilansir dari Investasi melalui data Coin Market Cap.
Langkah legislatif yang dipimpin Senator Tillis dan Alsobrooks tersebut bertujuan menyeimbangkan inovasi teknologi dengan perlindungan simpanan perbankan. Chee Zheng Feng, Analyst DBS Bank, menilai regulasi ini sebagai kompromi konstruktif bagi sektor perbankan dan perusahaan kripto.
"Dalam jangka panjang, ini seharusnya memfasilitasi transformasi stablecoin menjadi aset dengan kasus penggunaan yang produktif, mendukung proposisi nilai mata uang kripto," ujar Chee Zheng Feng, Analyst DBS Bank.
Menurut Feng, kebijakan tersebut memberikan ruang bagi perusahaan untuk memberi insentif penggunaan stablecoin bagi pelanggan tanpa memicu pelarian simpanan dari bank. Ia juga menyoroti kinerja positif Bitcoin dan Ether sejak akhir Maret yang sejalan dengan pergerakan indeks S&P 500 dan Nasdaq.
"Pembelian gabungan yang mendekati US$ 1 miliar tersebut mewakili sekitar 0,4% dari kapitalisasi pasar Ethereum pada akhir 26 Maret, sebanding dengan pembelian penting Bitcoin sebesar US$ 6 miliar, yang juga setara dengan kira-kira 0,45% dari kapitalisasi pasar Bitcoin pada akhir 26 Maret," jelas Feng.
Di sisi lain, pergerakan pasar juga dipengaruhi oleh arus masuk dana melalui ETF yang mencapai 2 miliar dolar AS untuk Bitcoin. Fahmi Almuttaqin, Analis Reku, menyatakan bahwa optimisme pasar tetap terjaga meski harga minyak dunia merangkak naik.
"Dengan harga Bitcoin yang mampu bertahan di atas US$ 80.000 setelah data inflasi AS yang naik di atas perkiraan, prospek Bitcoin masih cukup positif," ujar Fahmi Almuttaqin, Analis Reku.
Fahmi memaparkan bahwa pergantian pimpinan The Fed dan dinamika geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi faktor tambahan yang dipantau pelaku pasar. Ia mengindikasikan bahwa kondisi saat ini menunjukkan tanda-tanda berakhirnya siklus pasar yang lesu.
"Meskipun ketidakpastian masih cukup tinggi, banyak indikator yang saat ini mengkonfirmasi akhir dari siklus bearish," kata Fahmi.
Pakar dari Reku ini menyarankan strategi akumulasi bertahap bagi investor konservatif, sementara pengelola dana aktif dapat memanfaatkan fluktuasi harga untuk hasil optimal. Tren positif ini diharapkan berlanjut selama level harga saat ini tidak terkoreksi dalam.
"Tren harga Bitcoin ke depan masih cukup positif dengan potensi berlanjutnya rally jika level harga saat ini berhasil dipertahankan," terang Fahmi.
Optimisme serupa datang dari Fyqieh Fachrur, Analis Tokocrypto, yang memproyeksikan potensi kenaikan harga hingga 100.000 dolar AS pada akhir semester pertama tahun 2026. Hal tersebut sangat bergantung pada konsistensi arus masuk dana institusional melalui ETF.
"Secara keseluruhan, pada kuartal II ÔÇô 2026 masih akan diwarnai volatilitas tinggi, namun dengan peluang kenaikan yang tetap terbuka jika faktor pendukungnya terpenuhi," ucap Fyqieh Fachrur, Analis Tokocrypto.