Harga BBM Non-Subsidi Swasta Melonjak Akibat Konflik Timur Tengah

Harga BBM Non-Subsidi Swasta Melonjak Akibat Konflik Timur Tengah
Foto: Ilustrasi Harga BBM Non-Subsidi Swasta Melonjak Akibat Konflik Timur Tengah.

Sejumlah SPBU swasta mulai menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi secara signifikan menyusul memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah pada Selasa (31/3/2026) dan Rabu (1/4/2026). Gejolak antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran telah mengganggu rantai pasok energi global dan memicu antrean kendaraan di berbagai wilayah.

Kenaikan tajam terlihat pada harga solar di SPBU BP dan Vivo yang kini menyentuh angka Rp30.890 per liter, sebagaimana dilansir dari Otomotif. Kondisi ini dipicu oleh ancaman blokade Selat Hormuz oleh Iran yang merupakan jalur krusial distribusi minyak mentah dunia, sehingga stok bahan bakar global menipis.

Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus pakar bahan bakar dan pelumas, Tri Yuswidjajanto Zaenuri, menjelaskan bahwa fenomena ini murni terjadi karena hukum ekonomi terkait ketersediaan dan permintaan.

"Kalau kebetulan suplainya berkurang seperti sekarang ini, permintaannya masih tinggi juga, ya pasti harga naik. Di dunia internasional kan kebanyakan kilang nih, itu kan disuplai minyak mentahnya dari Timur Tengah," ujar Yuswidjajanto, Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB).

Yuswidjajanto memaparkan bahwa biaya produksi di kilang otomatis membengkak seiring mahalnya harga bahan baku akibat konflik bersenjata yang menghambat suplai minyak bumi.

"Nah, sekarang suplai minyak bumi berkurang, karena terhambat sama perang AS-Israel vs Iran. Otomatis harga minyak bumi tambah mahal. Nah, kalau harga minyak bumi tambah mahal, ya otomatis harga bahan bakar yang dihasilkan dari kilang ya tambah mahal," kata Yuswidjajanto, Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB).

Kondisi ini diperparah oleh langkah proteksionisme beberapa negara produsen, seperti China, yang mulai membatasi ekspor demi mengamankan cadangan energi dalam negeri mereka sendiri.

"Beberapa negara juga khawatir kalau (cadangan) bahan bakarnya habis, karena itu mereka membatasi atau tidak melakukan ekspor (bahan bakar) lagi. Misalnya, China tidak mengekspor lagi," ujar Yuswidjajanto, Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB).

Indonesia yang masih bergantung pada impor BBM dari pasar Singapura merasakan dampak langsung, karena berkurangnya pasokan dari China menyebabkan harga di pasar Singapura ikut melonjak tinggi.

"Otomatis kalau China tidak ekspor, misalnya dia suplai salah satunya ke Singapura, berarti harga bahan bakar di Singapura naik juga. Nah, kita membeli dari Singapura, ya harga bahan bakarnya naik juga," kata Yuswidjajanto, Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB).

Pemerintah kini dihadapkan pada pilihan sulit antara menyesuaikan harga domestik atau menambah beban subsidi, terutama setelah muncul kabar harga Pertamax (RON 92) berpotensi dikerek hingga Rp17.000 per liter.

"Nah, tinggal pemerintah mau mengikuti kenaikan harga akibat hukum supply dan demand itu, atau mau menahan harga, tidak memberikan subsidi. Bisa jadi juga yang subsidi tidak usah naik, tapi yang non-subsidi naik, untuk memberikan subsidi ke bahan bakar yang subsidi," ujar Yuswidjajanto, Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB).

Artikel terkait

Rekomendasi