Sektor pariwisata Bangladesh mengalami kesulitan menarik kunjungan wisatawan mancanegara akibat persepsi publik yang buruk terkait kondisi politik dan bencana alam pada Sabtu (2/5/2026). Meskipun memiliki kekayaan alam seperti hutan bakau dan pantai terpanjang, citra negara tersebut masih membayangi potensi wisatanya.
Data Dewan Pariwisata Bangladesh menunjukkan jumlah kunjungan wisatawan internasional hanya mencapai 650 ribu orang pada tahun 2024, dilansir dari Detik Travel. Angka tersebut tertinggal jauh dibandingkan negara tetangga di kawasan Asia Selatan seperti India dan Sri Lanka.
Jim O'Brien, Direktur Native Eye Travel, menilai bahwa kekhawatiran turis terhadap aspek keamanan telah menutupi keragaman budaya serta keindahan alam yang ditawarkan oleh Bangladesh. Ia menyoroti adanya kaitan erat antara nama negara tersebut dengan pemberitaan yang kurang menguntungkan di media internasional.
"Saya rasa ada asosiasi bawah sadar antara negara ini dengan bencana alam. Kita hanya mendengar informasi tentang negara ini karena alasan yang salah," ujar Jim O'Brien.
Anand Patel, seorang wisatawan asal Inggris, mengungkapkan pengalamannya saat menghadapi keraguan dari rekan-rekannya ketika memutuskan berlibur ke Bangladesh. Publik di Barat cenderung lebih mengenal negara itu sebagai pusat industri garmen atau wilayah yang sering dilanda kerusuhan.
"Reputasi Bangladesh di Barat adalah sebagai negara produsen, terutama tekstil, dan hanya menjadi berita ketika terjadi banjir atau pemberontakan. Ini adalah perspektif negatif yang membuat negara ini kurang dikenal sebagai tujuan wisata," jelas Anand Patel.
Kawsar Ahmed Milon, Direktur Dhaka Tour Guides, berpendapat bahwa status sebagai negara dunia ketiga menjadi penghalang utama bagi turis asing. Menurutnya, banyak orang yang belum pernah berkunjung memiliki anggapan bahwa Bangladesh merupakan tempat yang tidak teratur.
"Orang-orang memandang Bangladesh sebagai negara dunia ketiga, sebuah negara yang tidak terorganisir dan bukan tempat yang baik untuk dikunjungi," ujar Kawsar Ahmed Milon.
Wisatawan asal Irlandia, Gary Joyce, memberikan testimoni berbeda setelah menjelajahi kekacauan jalanan di Dhaka dan mengunjungi bekas ibu kota Panam. Ia justru merasa terkesan dengan dinamika kota yang dianggapnya sangat hidup dan tidak pernah tidur.
"Jadi, kami diperkenalkan dengan kekacauan jalanan sejak awal. Kesan pertama saya terhadap kota ini adalah kota yang tidak pernah tidur. Pemandangan dan suara datang dari setiap sudut. Sebuah pengenalan yang luar biasa," ujar Gary Joyce.
Fahad Ahmed selaku pendiri Bengal Expedition Tours menegaskan bahwa upaya pengembangan terus dilakukan untuk memaksimalkan potensi besar yang dimiliki. Pemerintah setempat juga mulai memberikan kemudahan melalui kebijakan visa dan pembangunan fasilitas hotel berskala internasional.
"Pariwisata di sini masih berkembang, tetapi punya potensi yang sangat besar," ujar Fahad Ahmed.