Trump Sebut Gencatan Senjata AS dan Iran dalam Kondisi Kritis

Trump Sebut Gencatan Senjata AS dan Iran dalam Kondisi Kritis
Foto: Ilustrasi Trump Sebut Gencatan Senjata AS dan Iran dalam Kondisi Kritis.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan status gencatan senjata antara AS dan Iran kini dalam kondisi kritis pada Selasa (12/5/2026). Pernyataan ini muncul setelah Teheran mengajukan daftar tuntutan balasan yang memicu kebuntuan diplomasi baru dalam konflik yang pecah sejak Februari lalu.

Harapan perdamaian memudar menyusul penolakan keras Washington terhadap syarat-syarat yang diajukan Iran, sebagaimana dilansir dari Investor Daily. Trump bahkan mengkritik tajam dokumen balasan tersebut setelah ketegangan regional meningkat di wilayah Teluk.

"Saya menyebutnya kondisi terlemah saat ini, setelah membaca tumpukan sampah yang mereka kirimkan. Saya bahkan tidak menyelesaikannya," ujar Trump sebagaimana dikutip Reuters, Selasa (12/5/2026).

Kegagalan diplomasi ini berdampak langsung pada sektor ekonomi dengan melonjaknya harga minyak mentah Brent hingga mendekati US$ 108 per barel. Penutupan sebagian jalur Selat Hormuz menjadi penyebab utama mengingat wilayah ini mengangkut seperlima pasokan energi dunia.

Data Reuters mengonfirmasi bahwa produksi minyak OPEC pada April 2026 telah merosot ke titik terendah dalam dua dekade terakhir. Penurunan ini dipicu oleh gangguan ekspor dari wilayah Teluk akibat blokade maritim dan ancaman keamanan yang terus berlanjut.

Pemerintah Iran tetap pada pendirian keras dengan mengajukan sejumlah syarat berat. Tuntutan tersebut meliputi penghentian perang di semua lini termasuk Lebanon, pengakuan kedaulatan atas Selat Hormuz, ganti rugi kerusakan, hingga penghentian blokade laut oleh AS.

Ebrahim Rezaei selaku juru bicara komisi kebijakan luar negeri parlemen Iran menegaskan kesiapan militer negaranya melalui media sosial X. Ia memperingatkan bahwa Iran siap melakukan pengayaan uranium hingga level senjata nuklir jika terjadi serangan lanjutan.

Di tengah kebuntuan ini, ketegangan meluas ke negara tetangga setelah Kuwait melaporkan penangkapan empat orang yang diduga anggota Garda Revolusi Iran. Keempat orang tersebut ditengarai mencoba menyusup ke wilayah Kuwait melalui jalur laut.

Secara domestik, Trump menghadapi tekanan politik karena dua dari tiga warga Amerika merasa tidak mendapatkan penjelasan jelas mengenai alasan perang. Lonjakan biaya bahan bakar juga mulai menggerus popularitas pemerintah menjelang pemilihan kongres.

"Begitu masalah dengan Iran ini selesai, Anda akan melihat harga bensin dan minyak jatuh seperti batu," janji Trump.

Sebagai langkah strategis, Presiden Trump dijadwalkan tiba di Beijing pada Rabu (13/5/2026). Kunjungan tersebut bertujuan untuk membahas krisis Timur Tengah ini dengan Presiden China Xi Jinping guna mencari solusi atas gangguan ekonomi global.

Artikel terkait

Rekomendasi