Gemerlap Lampu Kota dan Asa Pedagang di Atas Flyover Pasar Rebo

Gemerlap Lampu Kota dan Asa Pedagang di Atas Flyover Pasar Rebo
Foto: Ilustrasi Gemerlap Lampu Kota dan Asa Pedagang di Atas Flyover Pasar Rebo.

Setiap sore menjelang malam, riuh rendah suara mesin kendaraan di kawasan Jakarta Timur perlahan berpadu dengan aroma seduhan kopi sachet dan asap dari gerobak siomay. Trotoar di atas Jembatan Layang atau Flyover Pasar Rebo, yang sejatinya dirancang sunyi dari pejalan kaki, mendadak berubah wujud menjadi panggung ekonomi kecil yang semarak seiring matahari terbenam.

Bagi para pengendara yang penat menerjang kemacetan ibu kota, tempat ini adalah oase gratis untuk sekadar melepas lelah. Sementara bagi para pedagang kaki lima, berkumpulnya warga di atas ketinggian ini menjadi momentum emas untuk menjaring rupiah demi rupiah dari kantong para pengunjung yang betah mengobrol hingga larut malam.

Alba (35) merupakan salah satu pedagang minuman sachet yang sudah bertahun-tahun menggantungkan hidupnya dari pergerakan manusia di Flyover Pasar Rebo. Baginya, jembatan ini bukan sekadar infrastruktur penghubung jalan, melainkan ruang hidup yang menghidupi keluarganya.

"Sudah lama saya jualan di sini. Kalau persisnya dari kapan udah lupa juga, tapi kira-kira sudah lima sampai sepuluh tahunan lah," kata dia saat ditemui di flyover Pasar Rebo, Jumat (18/5/2026).

Setiap hari Alba membawa barang dagangannya ke lokasi yang sama, menanti para pengendara yang sengaja berhenti atau melintas. Ketika akhir pekan tiba dan langit Jakarta sedang bersahabat tanpa hujan, omzetnya pun ikut terkerek naik.

ÔÇ£Iya, biasanya malam Minggu lebih ramai. Apalagi kalau cuaca lagi cerah, orang makin banyak yang nongkrong di sini. Alhamdulillah ada aja pembeli," kata dia.

Meski tidak pernah mencatat secara rinci pembeli yang datang, puluhan gelas minuman seharga Rp5.000 selalu berpindah tangan ke pengunjung setiap malam. Dari balik cangkir-cangkir plastik itu, perputaran uang yang cukup untuk menyambung hidup pun terjadi.

ÔÇ£Ya perhari ada dah Rp 250.000 mah tapi itu engga bersih ya, kan buat modal besok jualan lagi juga," kata dia.

Geliat ekonomi di atas flyover tidak hanya dirasakan oleh penjual minuman ringan. Cerita serupa datang dari Ujang (42), seorang pedagang siomay yang memilih berhenti berkeliling setelah melihat potensi keramaian yang konsisten di atas jembatan layang tersebut selama empat tahun terakhir.

ÔÇ£Kalau saya jualan di sini kurang lebih sudah empat tahunan. Awalnya mah keliling dulu bawa gerobak tuh di bawah, terus akhirnya sering mangkal di sini karena ramai," kata dia di Flyover Pasar Rebo.

Menurut pengamatan Ujang, para pengunjung yang datang ke tempat ini tidak sekadar singgah lalu pergi dalam sekejap. Banyak dari mereka yang menikmati embusan angin malam di ketinggian, menjadikan tempat ini ruang komunal yang nyaman.

ÔÇ£Banyak yang habis kerja atau habis jalan terus kumpul di sini. Di sini juga anginnya enak, jadi banyak yang betah," kata Ujang.

Dengan harga satu porsi siomay sebesar Rp10.000, Ujang mampu menjual hingga 30 sampai 40 porsi ketika kawasan tersebut sedang padat-padatnya oleh muda-mudi maupun pekerja yang beristirahat.

Puncak Keramaian di Bawah Embusan Angin Malam

Aktivitas di atas Flyover Pasar Rebo memiliki ritme tersendiri. Ketika jam kerja berakhir dan malam mulai larut, intensitas manusia yang singgah justru semakin padat, menciptakan pemandangan kontras dengan jalur jalan raya di bawahnya.

Rami (42), pedagang minuman lain yang sudah enam tahun menggelar lapaknya di sana, mengamati bahwa pergerakan pengunjung mulai terasa signifikan setelah waktu maghrib berlalu. Titik jenuh kepadatan biasanya terjadi menjelang tengah malam.

ÔÇ£Biasanya mulai ramai habis maghrib. Tapi yang paling padet ya sekitar jam 22.00 WIB sampai tengah malam," kata Rami di flyover Pasar Rebo.

Kehadiran para pedagang ini bukannya tanpa pengawasan. Petugas keamanan kerap datang memberikan teguran agar keberadaan lapak mereka tidak mengganggu arus lalu lintas kendaraan yang melintas cepat.

ÔÇ£Pernah ada imbauan dari petugas. Biasanya disuruh jangan terlalu memenuhi jalan atau jangan bikin macet. ya kita mah nurut aja. Kalau di bawa (dagangannya) enggak," katanya.

Walau harus kucing-kucingan atau menuruti arahan petugas, Rami mengakui eksistensi para pemuda yang berkumpul merupakan urat nadi dari usahanya.

ÔÇ£Kalau sepi kan susah juga mau jualan. Adanya anak-anak nongkrong begini jadi ada yang beli tiap malam," kata dia.

Perbedaan pendapatan antara hari biasa dan akhir pekan menjadi penanda betapa kawasan ini telah bertransformasi menjadi pusat hiburan alternatif yang populer.

ÔÇ£Kalau hari biasa paling dapat sekitar Rp 150.000 sampai Rp 200.000 semalam, tapi kalau lagi ramai akhir pekan bisa sampai Rp 300.000 lebih," kata dia.

Nongkrong Murah dan Eksotisme Macet Kota dari Ketinggian

Bagi kaum urban seperti Aan (20), seorang pekerja asal Depok yang setiap hari harus menempuh perjalanan jauh dari Kalideres, Flyover Pasar Rebo adalah tempat singgah yang ramah di kantong. Berhenti di sini telah menjadi bagian dari rutinitasnya bersama rekan-rekan kerja.

"Biasanya sama teman kerja atau teman motoran Kadang berdua kadang rame ramai kalau pas sama sama pulang. Paling ramai biasanya habis Maghrib sampai sekitar jam 22.00 WIB malam," kata Aan saat ditemui di Flyover Pasar Rebo, Jumat.

Faktor ekonomi menjadi alasan utama mengapa area trotoar jalan layang ini lebih memikat ketimbang kedai kopi modern yang menjamur di sudut-sudut kota.

ÔÇ£Karena gratis sih. Kalau habis kerja kadang sudah capek pengin duduk santai aja sambil ngobrol Kalau ke kafe kan pasti keluar uang lagi. Di sini tinggal beli kopi goceng (5000) bawa rokok juga udah bisa nongkrong lama," ujar dia.

Namun, bukan hanya soal harga murah yang dicari. Dari atas jembatan layang ini, hamparan lampu-lampu kendaraan yang merayap di bawahnya menyajikan pemandangan visual yang justru memberikan rasa rileks setelah seharian didera tekanan pekerjaan.

ÔÇ£Dari atas kan kelihatan lampu kendaraan suasananya ramai tapi tetap terasa santai jadi kayak ada suasana sendiri aja. Kadang kalau habis kerja penat nongkrong di sini bikin rileks," tuturnya.

Di sela-sela embusan angin, aktivitas yang dilakukan para pengunjung sebenarnya sangat sederhana dan komunal.

ÔÇ£Paling ngopi denger musik dari speaker lihat kendaraan lewat kadang foto foto juga. Ada juga yang cuma duduk main HP sambil istirahat sebelum lanjut jalan pulang," kata dia.

Hal senada diungkapkan oleh Endra (23). Bagi pemuda yang hanya singgah seminggu sekali ketika merasa suntuk ini, keramaian di atas flyover memberikan rasa kebersamaan yang unik meskipun mereka saling tidak mengenal.

ÔÇ£Sebenernya saya enggak terlalu sering nongkrong kayak yang tiap hari gitu. Paling seminggu sekali atau kalau lagi suntuk aja pulang kerja. Jadi sebelum masuk Depok nih istirahat dulu di sini," kata Endra saat ditemui di flyover Pasar Rebo, Jumat.

Rasa nyaman yang timbul dari ruang publik dadakan ini mengalahkan rasa cemas akan hiruk-pikuk kota, menciptakan ruang istirahat sementara sebelum kembali ke rumah.

ÔÇ£Jadi walaupun enggak kenal, suasananya kayak ramai bareng aja. Kadang ada komunitas motor juga, ada yang cuma duduk duduk," katanya.

Sementara itu, Rifki (24) melihat fenomena ini dari sudut pandang estetika urban yang berbeda. Baginya, kemacetan Jakarta yang biasanya dibenci justru bertransformasi menjadi sebuah karya visual yang menarik dinikmati dari atas ketinggian langit sore.

ÔÇ£Saya suka lihat macetnya Jakarta dari atas. Kedengarannya aneh sih, tapi ada sensasi sendiri lihat kendaraan panjang gitu macet macetan, lampu merah, klakson, terus langit sore," kata Rifki saat berbincang dengan Kompas.com, Jumat.

Menantang Bahaya dan Bayang-Bayang Sanksi Hukum

Di balik tawa, obrolan santai, dan kepulan asap rokok, ada sebuah kenyataan pahit yang disadari oleh setiap pengunjung: mereka berada di tempat yang salah. Flyover bukanlah taman kota atau alun-alun yang aman.

ÔÇ£Tahu sih sebenarnya bukan tempat buat nongkrong. Makanya biasanya juga enggak terlalu lama atau bikin ramai banget," kata Rifki.

Kesadaran akan bahaya ini juga membayangi Aan dan Endra. Kecepatan tinggi kendaraan yang melintas di jalur satu arah tersebut menjadi ancaman nyata yang sewaktu-waktu bisa berujung fatal.

ÔÇ£Bahaya juga karena kendaraan banyak lewat. Kadang motor kebut kebutan juga karena satu arah kan. Makanya biasanya kita cari spot yang enggak terlalu dekat jalan," kata Aan.

Keterbiasaan melihat orang lain melakukan hal yang sama sering kali mengikis rasa takut yang seharusnya ada ketika berada di jalur lalu lintas aktif.

ÔÇ£Sebenernya tahu sih bahaya. Apalagi kendaraan kencang terus kadang anginnya juga besar kalau malam. Cuma ya mungkin karena sudah banyak yang nongkrong jadi terasa biasa aja," jelas Endra.

Pemerintah daerah sendiri tidak tinggal diam melihat fenomena alih fungsi fasilitas jalan ini. Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DKI Jakarta, Satriadi Gunawan, menegaskan bahwa fungsi utama jembatan layang sepenuhnya mengacu pada aspek keselamatan dan kelancaran arus lalu lintas, bukan untuk ruang berkumpul atau memarkirkan kendaraan.

ÔÇ£Ya, sebenarnya prinsipnya itu kan tidak diperbolehkan parkir sebarangan apalagi menggunakan trotoar atau bahu jalan yang bisa mengganggu jalan keselamatan dan lalu lintas kan enggak boleh," kata Satriadi kepada Kompas.com melalui panggilan telepon, Senin (18/5/2026).

Patroli dan pendekatan secara persuasif terus diupayakan oleh pihak Satpol PP demi mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas yang melibatkan warga di atas jembatan layang tersebut.

ÔÇ£Ya kalau fungsi jalan kan buat lalu lintas, bukan tempat parkir kan jadi yang pasti mengganggu lah resiko tertabrak, menabrak, atau ditabrak," jelas dia.

Larangan ini bukan sekadar imbauan lisan, melainkan memiliki dasar hukum yang kuat dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Pelanggaran terhadap tata cara berhenti dan parkir di tempat terlarang dapat diancam pidana kurungan hingga satu bulan atau denda maksimal Rp250.000. Bahkan, jika kelalaian berhenti sembarangan tersebut mengakibatkan kecelakaan dengan kerusakan properti atau korban luka, sanksi pidana yang membayangi bisa mencapai enam bulan hingga satu tahun penjara dengan denda jutaan rupiah.

Malam kian larut di Flyover Pasar Rebo. Di antara deru kendaraan dan aturan hukum yang mengintai, gelas-gelas kopi sachet masih terus diseduh, dan lampu kota Jakarta tetap berpijar mengiringi para pencari jeda di atas aspal jembatan layang.

Artikel terkait

Rekomendasi