Garda Revolusi Iran kembali mengumumkan penutupan Selat Hormuz bagi pelayaran internasional pada Minggu (19/4/2025) sebagai respons atas blokade angkatan laut Amerika Serikat. Sejumlah kapal kargo dan tanker minyak dilaporkan terhenti di jalur perairan strategis tersebut menurut laporan televisi pemerintah Iran.
Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz kini dibatasi oleh otoritas Teheran yang menuntut penghapusan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan mereka. Dilansir dari Kompas, rekaman video menunjukkan kapal-kapal raksasa tidak bergerak di tengah perlintasan sementara hanya perahu kecil yang diizinkan melintas.
Penutupan jalur perdagangan energi dunia ini dilakukan secara resmi oleh militer Iran guna memberikan tekanan diplomatik. Penegasan mengenai syarat pembukaan kembali jalur tersebut disampaikan langsung melalui saluran media resmi militer mereka.
"Selama blokade angkatan laut AS belum dicabut, selat tersebut tidak akan dibuka, dan tidak akan ada negosiasi yang dilakukan," demikian pernyataan Garda Revolusi.
Tentara Iran melaporkan telah mengambil tindakan tegas terhadap kapal yang mencoba melintas selama periode penutupan ini. Dua kapal tanker minyak yang masing-masing berbendera Angola dan Botswana dihentikan paksa dan diperintahkan untuk berbalik arah saat mencoba melewati selat.
Langkah militer ini didukung oleh otoritas tertinggi di Teheran yang menginstruksikan penggunaan kontrol wilayah perairan sebagai instrumen kebijakan. Media pemerintah melaporkan adanya instruksi khusus dari pemimpin tertinggi terkait eskalasi di wilayah tersebut.
Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei telah mengeluarkan pesan yang menekankan bahwa Teheran harus memanfaatkan 'mekanisme penutupan selat'.
Hingga saat ini, belum ada laporan mengenai negosiasi lanjutan antara pihak Iran dan Amerika Serikat terkait ketegangan di Selat Hormuz. Kondisi lalu lintas laut di salah satu titik tersibuk dunia tersebut tetap dalam pengawasan ketat personel bersenjata Iran.