Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyita dua unit kapal kontainer, Epaminondas berbendera Liberia dan MSC Francesca berbendera Panama, di kawasan Selat Hormuz pada Rabu (22/4/2026). Penindakan ini dilakukan di tengah ketegangan wilayah meski Amerika Serikat baru saja memperpanjang masa gencatan senjata.
Penyitaan tersebut didasari tuduhan adanya pelanggaran aturan navigasi yang dilakukan secara berulang oleh kedua kapal. Dilansir dari Money, pihak berwenang Iran menyebut kapal-kapal tersebut beroperasi tanpa izin resmi dan aktivitasnya dinilai membahayakan keamanan maritim di jalur vital tersebut.
Laporan kantor berita Tasnim menyebutkan bahwa armada IRGC mencegat kapal saat mencoba keluar dari wilayah blokade secara diam-diam. Saat ini, kedua kapal telah ditarik ke pesisir Iran untuk menjalani pemeriksaan menyeluruh terhadap dokumen serta muatan kargo yang dibawa.
ÔÇ£Dengan intelijen pasukan kami yang dominan, kapal-kapal ini terdeteksi dan dihentikan untuk menegakkan hak-hak bangsa Iran atas Selat Hormuz,ÔÇØ demikian pernyataan IRGC.
Pihak militer Iran menegaskan komitmen mereka dalam menjaga kedaulatan wilayah perairan tersebut dari segala bentuk pelanggaran. Mereka juga memberikan peringatan keras kepada seluruh kapal komersial yang melintasi zona blokade tanpa mengikuti prosedur.
Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) mencatat adanya peningkatan eskalasi militer, termasuk insiden penembakan terhadap kapal lain di sekitar pantai Iran dan Oman. Sebuah kapal kontainer dilaporkan mengalami kerusakan berat pada bagian anjungan setelah didekati oleh kapal cepat milik Garda Revolusi.
Ketegangan ini merupakan bagian dari aksi balasan atas tindakan militer Amerika Serikat yang sebelumnya menyita kapal kargo Touska dan kapal tanker M/T Tifani. Ketua parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, memberikan tanggapan terkait tawaran perdamaian dari pihak Washington.
ÔÇ£Gencatan senjata hanya berlaku jika blokade dihentikan,ÔÇØ tegas Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf.
Ia menambahkan bahwa akses pelayaran di Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali secara normal selama kebijakan blokade dan pelanggaran masih terus berlangsung. Situasi diplomasi saat ini dilaporkan mandek setelah rencana pembicaraan damai di Pakistan dinyatakan batal.
Gangguan keamanan di Selat Hormuz telah memicu volatilitas tinggi pada pasar energi global mengingat 20 persen distribusi minyak dunia melewati jalur ini. Aktivitas pelayaran komersial merosot tajam dari 130 kapal menjadi hanya beberapa kapal saja per hari, yang menyebabkan harga minyak mentah Brent menembus angka 100 dollar AS per barrel.