Pendaki perempuan Furky Syahroni mengungkapkan pengaruh besar aktivitas mendaki gunung terhadap pembentukan karakter dan pola pikir dalam kesehariannya pada Selasa (21/4/2026). Dilansir dari Detik Travel, Furky memaknai gunung sebagai elemen penggerak hidup yang memberikan energi positif bagi dirinya.
Aktivitas high-altitude mountaineering di atas ketinggian 6.000 meter di atas permukaan laut (mdpl) memberikan tantangan fisik dan mental yang besar bagi perempuan. Furky menilai bahwa medan ekstrem menuntut kesiapan yang matang, meskipun terdapat perbedaan kondisi fisik antara laki-laki dan perempuan.
"Jadi kalau mau jawaban simpel, mendaki gunung adalah hobi yang menjadi sumber energi positif di keseharian saya," kata Furky Syahroni, Pendaki Perempuan.
Furky menekankan bahwa kesuksesan di gunung tidak hanya bertumpu pada kekuatan fisik semata. Ia berpendapat bahwa aspek manajerial dan teknis memegang peranan krusial saat menghadapi tantangan di medan berat.
"Secara fisik dan domino efeknya, laki-laki lebih memiliki keuntungan daripada perempuan. Namun di gunung, selain fisik, pendaki juga harus punya banyak hal lain," ujar Furky Syahroni.
Ia merinci berbagai keahlian non-fisik yang dibutuhkan oleh seorang pendaki profesional dalam ekspedisi. Keterampilan tersebut mencakup kepemimpinan hingga kemampuan mengalkulasi segala kemungkinan risiko di lapangan.
"Seperti kemampuan teknis, kemampuan mengelola pendakian, kemampuan berhitung dan bersiap, kemampuan menakar risiko, kemampuan sebagai leader, dan kemampuan non fisikal lainnya," ujar Furky Syahroni.
Pengalaman menghadapi situasi kritis di gunung secara langsung mempertajam kemampuan pengambilan keputusan Furky dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, lingkungan ekstrem melatih seseorang untuk berpikir lebih efisien dan terarah.
"Sejak aktif naik gunung, bagaimana saya memandang dan memecahkan masalah jadi lebih simpel dan tajam," kata Furky Syahroni.
Identifikasi masalah dan penentuan prioritas secara cepat menjadi kunci keselamatan saat berada di alam bebas. Kesalahan kecil dalam perhitungan di ketinggian dapat berakibat fatal bagi keselamatan nyawa pendaki.
"Kalau terjadi sesuatu, pendaki dituntut harus pintar menentukan prioritas, mengidentifikasi masalah, dan mencari solusi seefisien mungkin. Kesalahan perhitungan akan berakibat fatal," ujar Furky Syahroni.
Terkait kondisi komunitas saat ini, Furky mencatat adanya peningkatan signifikan pada partisipasi perempuan dalam kegiatan luar ruang yang serius. Ia merasa representasi perempuan kini sudah semakin luas di berbagai bidang ekspedisi.
"Saya melihat perkembangannya sangat positif. Semakin banyak perempuan yang aktif mendaki, ikut trail running, bahkan ekspedisi yang serius," kata Furky Syahroni.
Dukungan kolektif dalam komunitas pendaki juga dianggap semakin kuat dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini menciptakan lingkungan yang lebih inklusif bagi para penggiat aktivitas alam bebas di Indonesia.
"Saya sangat senang karena sekarang representasi perempuan makin luas, dan rasa saling mendukung di dalam komunitas juga semakin terasa," ujar Furky Syahroni.
Dalam satu dekade terakhir, Furky telah menaklukkan sejumlah puncak dunia dengan ketinggian ekstrem. Catatan pendakiannya mencakup Gunung Kilimanjaro (5.895 mdpl), Island Peak (6.189 mdpl), Mera Peak (6.476 mdpl), Spantik (7.027 mdpl), hingga Annapurna IV (7.525 mdpl).
"Kita sebagai manusia punya tanggung jawab, punya purpose, dan semua rutinitas lainnya. Mendaki gunung bagi saya adalah salah satu api dalam hidup saya," kata Furky Syahroni.