Fosil Baru Homo habilis Mengubah Teori Asal-usul Manusia Purba

Fosil Baru Homo habilis Mengubah Teori Asal-usul Manusia Purba
Foto: Ilustrasi Fosil Baru Homo habilis Mengubah Teori Asal-usul Manusia Purba.

Spesies manusia terawal masih menyimpan misteri besar mengenai rupa dan anatomi aslinya. Homo habilis sendiri telah dimasukkan ke dalam silsilah evolusi sejak tahun 1964. Namun, bentuk fisik makhluk yang hidup sekitar 2,4 juta hingga 1,65 juta tahun lalu ini belum diketahui secara pasti.

Hingga baru-baru ini, peneliti hanya memiliki tiga kerangka fosil yang kondisinya tidak lengkap. Seperti dikutip dari Detik iNET, para peneliti mendeskripsikan kerangka keempat yang jauh lebih utuh pada Januari 2026. Temuan ini memperlihatkan bahwa anatomi H. habilis sangat berbeda dengan manusia modern.

Kondisi tersebut memicu pertanyaan besar di kalangan ilmuwan mengenai status evolusi spesies ini. Karakteristik fisik yang ditemukan membuat peneliti ragu apakah leluhur terawal ini benar-benar bisa dikategorikan sebagai manusia.

"Seiring makin banyaknya fosil yang kami temukan, kami memperluas definisi genus Homo. Mungkin kali ini kami memperluasnya terlalu jauh" ujar Bernard Wood, ahli paleoantropologi di George Washington University kepada Live Science.

Manusia modern atau Homo sapiens termasuk dalam rumpun genus Homo. Rumpun ini berevolusi setelah garis keturunan evolusioner terpisah dari simpanse lebih dari 5 juta tahun lalu. Pemisahan tersebut mencakup manusia dan kerabat dekatnya yang telah punah.

Muncul argumen bahwa evolusi genus manusia dimulai sejak perpisahan dengan keturunan simpanse. Kendati demikian, makhluk-makhluk pertama yang muncul setelah fase tersebut sama sekali tidak menyerupai manusia modern.

Salah satu contohnya adalah spesies Australopithecus afarensis yang hidup di Afrika antara 3,9 juta hingga 2,9 juta tahun silam. Kelompok ini mencakup kerangka Lucy yang terkenal dan memiliki lengan panjang mirip kera serta volume otak yang relatif kecil. Sangat sedikit ilmuwan yang menganggap Lucy sebagai bagian dari manusia.

Secara historis, mayoritas antropolog tetap memasukkan H. habilis ke dalam kategori genus Homo. Kerangka pertama spesies ini ditemukan di Tanzania pada dekade 1960-an dalam kondisi yang sangat tidak lengkap.

Spesimen berusia 1,75 juta tahun tersebut hanya berupa pecahan tengkorak. Melalui temuan itu, ukuran otak individu ini diperkirakan hanya sekitar 45% dari kapasitas otak manusia modern. Angka tersebut lebih besar dari rata-rata otak australopithecine yang berkisar 35% dari manusia modern.

Data numerik ini menjadi dasar kuat bagi para peneliti untuk memasukkan kerangka tersebut ke dalam genus Homo. Spesies ini kemudian dinamai Homo habilis yang memiliki arti 'manusia yang terampil', sebuah keputusan yang sempat diterima luas.

Penemuan kerangka H. habilis berusia 2 juta tahun yang dideskripsikan pada tahun 2026 kini mempersulit teori yang sudah mapan. Fosil terbaru ini memberikan gambaran paling jelas mengenai struktur lengan spesies tersebut yang ternyata panjang menyerupai kera.

"Sangat mirip australopith," ungkap Ian Tattersall, ahli paleoantropologi American Museum of Natural History.

Karakteristik lengan tersebut menjadi indikasi kuat bagi Ian Tattersall bahwa H. habilis bukan bagian dari genus manusia. Pandangan ini juga didukung oleh Mark Collard, arkeolog di Simon Fraser University, bersama Bernard Wood.

Bernard Wood dan Mark Collard mengusulkan agar spesies ini dipindahkan ke genus yang sama dengan Lucy. Langkah ini akan mengubah nama ilmiahnya menjadi Australopithecus habilis.

Namun, Ian Tattersall kurang sepakat dengan perubahan nama genus tersebut. Menurutnya, spesies ini memiliki ukuran otak dan gigi yang menyerupai manusia, sehingga lebih tepat jika ditempatkan dalam genus tersendiri.

Di sisi lain, beberapa peneliti menilai penamaan Homo habilis tidak perlu diubah meskipun struktur lengannya mirip kera.

"Proporsi anggota tubuh mirip kera tak selalu memberi banyak informasi," kata Carol Ward, antropolog University of Missouri.

Leluhur terawal manusia purba menghabiskan banyak waktu untuk memanjat pohon setelah berpisah dari garis keturunan simpanse. Anatomi lengan yang panjang menjadi fitur yang sangat berguna untuk menunjang aktivitas bertahan hidup tersebut.

Mereka kemudian mengalami adaptasi secara bertahap untuk berjalan di atas tanah sebelum akhirnya berevolusi menjadi manusia. Faktor fungsional ini diperkirakan memengaruhi bertahannya fitur fisik masa lalu pada masa transisi.

Nenek moyang bipedal ini kemungkinan besar tidak lagi memerlukan lengan yang panjang. Meski demikian, spesies pertama dari genus Homo diduga tetap mempertahankan karakteristik tersebut karena tidak adanya tekanan evolusi yang kuat untuk memendekkannya.

Penyebab pasti menyusutnya ukuran lengan manusia purba pada fase berikutnya masih belum diketahui secara pasti. Sejumlah peneliti menduga bahwa struktur lengan yang lebih pendek memberikan keuntungan mekanis saat berlari dan menggunakan alat genggam.

"Kerangka H. habilis justru mendukung gagasan mungkin ada transisi lebih bertahap dari australopith ke Homo," sebut Ward.

Artikel terkait

Rekomendasi