Filsuf Amanda Askell Racik Kepribadian Berempati pada Chatbot Claude AI

Filsuf Amanda Askell Racik Kepribadian Berempati pada Chatbot Claude AI
Foto: Ilustrasi Filsuf Amanda Askell Racik Kepribadian Berempati pada Chatbot Claude AI.

Kemampuan chatbot kecerdasan buatan bernama Claude dalam memberikan respons yang hangat kini tengah menarik perhatian banyak pengguna teknologi. Robot buatan Anthropic ini dinilai mampu memanusiakan penggunanya melalui kalimat-kalimat yang penuh empati saat mendengarkan keluh kesah.

Karakter unik yang dimiliki oleh Claude tersebut rupanya dirancang secara sengaja melalui sentuhan seorang filsuf perempuan asal Skotlandia, Amanda Askell. Kehadiran Askell menjadi sebuah anomali di wilayah Silicon Valley yang biasanya didominasi oleh para insinyur komputer.

Sebagai Kepala Tim Penyelarasan Kepribadian di Anthropic, tugas utama Askell adalah menanamkan kompas moral serta mendefinisikan karakteristik Claude. Latar belakang pendidikannya justru dimulai dari bidang seni rupa dan filsafat di University of Dundee, seperti dilansir dari Tekno.

Perjalanan akademis Askell kemudian berlanjut ke University of Oxford hingga meraih gelar PhD di New York University (NYU). Di NYU, ia mendalami etika tak terbatas yang membahas penerapan moralitas pada populasi berskala tidak terhingga sebelum akhirnya terjun ke industri kecerdasan buatan.

Sebelum bergabung dengan Anthropic pada Maret 2021, Askell merintis kariernya di OpenAI sebagai ilmuwan riset keselamatan AI sejak tahun 2020. Ia juga tercatat sebagai salah satu penulis pendamping untuk makalah penelitian GPT-3 yang monumental.

Namun, Askell memutuskan mundur dari perusahaan pembuat ChatGPT tersebut karena khawatir terhadap pergeseran prioritas perusahaan. OpenAI dinilai lebih mengedepankan kecanggihan teknis model AI dibandingkan memprioritaskan faktor keselamatan dan kehati-hatian.

Di laboratorium Anthropic, Askell menerapkan metode revolusioner bernama Constitutional AI (CAI) untuk melatih Claude. Sistem ini melatih Claude menggunakan sebuah dokumen cetak biru moral setebal kurang lebih 30.000 kata yang diinternalisasi sebagai Konstitusi.

Prinsip di dalam konstitusi tersebut mengambil inspirasi dari berbagai sumber mapan, mulai dari Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB hingga ketentuan layanan Apple. Dokumen ini bertujuan melatih Claude agar mampu bernalar secara independen mengenai kejujuran dan sikap menolong.

Sentuhan personal sang filsuf membuat Claude mampu memperlakukan pengguna layaknya orang dewasa yang cerdas tanpa terdengar sok menasihati atau menggurui. Pendekatan filosofis ini berhasil membawa Claude meraih tingkat kepercayaan publik tertinggi di angka 82 persen di antara model AI lainnya.

Berdasarkan metrik industri, Claude juga mencatat tingkat kepuasan pengguna sebesar 92 persen dan akurasi penyaringan materi tak pantas mencapai 97,2 persen. Sementara itu, tingkat halusinasi atau kecenderungan mengarang fakta pada Claude tercatat terendah di industri, yaitu hanya 1,8 persen.

Dedikasi ini membuat majalah TIME memasukkan nama Amanda Askell ke dalam daftar 100 Orang Paling Berpengaruh di dunia AI pada tahun 2024 lalu. Sebagai anggota gerakan Giving What We Can, Askell juga telah berikrar menyumbangkan 10 persen pendapatan seumur hidupnya untuk amal.

Artikel terkait

Rekomendasi