Fenomena langit yang cukup langka, Blue Moon, diprediksi akan kembali menyapa penduduk Bumi pada Mei 2026 mendatang. Peristiwa astronomi ini menarik perhatian karena memberikan pemandangan bulan purnama yang berbeda dari siklus biasanya.
Dikutip dari Suara, kemunculan Blue Moon pada Mei 2026 menjadi perbincangan hangat lantaran dapat diamati dari berbagai wilayah di Indonesia. Banyak pecinta astronomi mulai mempersiapkan diri untuk tidak melewatkan momen ini.
Istilah Blue Moon sendiri sebenarnya bukan merujuk pada perubahan warna bulan menjadi biru. Menurut penjelasan resmi NASA, Blue Moon merupakan sebutan untuk fase bulan purnama kedua yang terjadi dalam satu bulan kalender yang sama.
Kondisi ini dapat terjadi karena siklus fase Bulan berlangsung selama kurang lebih 29,5 hari. Dalam situasi tertentu, durasi tersebut memungkinkan munculnya dua kali fase purnama dalam rentang waktu satu bulan.
Pada periode Mei 2026, bulan purnama pertama yang dikenal dengan sebutan Flower Moon akan muncul di awal bulan. Sementara itu, fase purnama kedua yang muncul di penghujung bulan inilah yang dinobatkan sebagai Blue Moon.
Rata-rata fenomena ini hanya terjadi setiap dua hingga tiga tahun sekali. Kelangkaan tersebut menjadikan kehadirannya selalu dinantikan oleh para pengamat langit dan ahli astronomi di seluruh dunia.
Berdasarkan data yang dihimpun dari situs astronomi In The Sky, puncak fenomena Blue Moon 2026 dijadwalkan terjadi pada Minggu, 31 Mei 2026, tepat pukul 08.45 UTC.
Jika dikonversi ke zona waktu di Indonesia, fenomena alam ini berlangsung pada pukul 15.45 WIB, 16.45 WITA, dan 17.45 WIT. Masyarakat Indonesia dapat mulai bersiap memantau langit sejak sore hingga malam hari pada tanggal tersebut.
Panduan Melihat Blue Moon di Indonesia
Pengamatan Blue Moon pada 31 Mei 2026 dapat dilakukan dengan cukup mudah dari wilayah Indonesia. Fenomena ini bisa disaksikan langsung menggunakan mata telanjang tanpa memerlukan peralatan optik khusus.
NASA menjelaskan bahwa Bulan merupakan salah satu objek paling terang di langit malam, sehingga sangat mudah ditemukan dari berbagai lokasi di permukaan Bumi asalkan cuaca mendukung.
Untuk mendapatkan pengalaman pengamatan yang maksimal, sangat disarankan memilih lokasi dengan pandangan langit yang terbuka luas. Area yang minim polusi cahaya seperti perbukitan, pantai, atau lapangan terbuka menjadi tempat ideal.
Faktor cuaca cerah memegang peranan krusial agar detail permukaan Bulan tidak tertutup awan. Jika kondisi atmosfer mendukung, tekstur Bulan akan terlihat jauh lebih kontras dan jelas saat puncak purnama berlangsung.
Bagi pengamat yang ingin melihat detail kawah atau tekstur permukaan Bulan secara lebih mendalam, penggunaan alat bantu seperti teropong atau teleskop sederhana sangat dianjurkan. NASA menyebutkan bantuan pembesaran optik memungkinkan visualisasi kawah yang lebih dramatis.
Selain pengamatan visual, momen langka ini juga dapat diabadikan menggunakan perangkat digital. Sesuai panduan NASA Moon Observation Guide, fotografi Bulan dapat dilakukan meski hanya menggunakan kamera ponsel asalkan posisi Bulan terlihat jelas di langit.