Sejumlah warga di Jakarta dan sekitarnya mulai memanfaatkan jasa teman jalan untuk memenuhi kebutuhan interaksi sosial dan pendampingan aktivitas harian pada Selasa (14/4/2026). Tren yang berkembang di media sosial ini menawarkan layanan kebersamaan singkat bagi individu yang merasa kesepian atau membutuhkan bantuan teknis dalam berkegiatan.
Rosita, salah satu penyedia jasa yang berbasis di Bekasi, mengungkapkan bahwa layanan ini ia rintis melalui platform media sosial sejak akhir tahun lalu. Dilansir dari Megapolitan, ia mencatat adanya peningkatan permintaan dari klien yang didominasi oleh pekerja kantoran dan mahasiswa yang membutuhkan teman bicara.
"Ternyata ada yang nge-DM dan ternyata dia malah pengen ditemenin nongkrong, dia mau nyoba dulu nih "Kak ini beneran apa enggak" Terus yaudah," kata Rosita saat menjelaskan awal mula pertemuannya dengan klien pertama.
Penyedia jasa yang akrab disapa Ita ini kemudian memanfaatkan platform lain untuk memasarkan layanannya. Hal tersebut berdampak pada jangkauan pasar yang semakin meluas dan identifikasi kebutuhan masyarakat yang nyata terhadap kehadiran teman fisik.
"Aku bikin ceritaku itu lah di TikTok Akhirnya setelah itu lanjut promosinya semuanya di TikTok Akhirnya klien-kliennya semua dapetnya dari TikTok semua," jelas Rosita mengenai strategi pemasarannya.
Awalnya, Rosita tidak menyangka bahwa kegiatan sederhana seperti menemani orang lain dapat dikomersialkan. Namun, banyaknya akun serupa yang bermunculan mengonfirmasi bahwa jasa ini memiliki segmentasi pasar tersendiri di wilayah perkotaan.
"Karena dulu tuh bener-bener enggak tahu gitu loh terus pas iseng buka (jasa), barulah mulai bermunculan akun-akun lain Jasa teman jalan yang lain "oh ternyata jasa kayak gini tuh memang dibutuhin ya" akhirnya dari situ diseriusin," ujar Rosita.
Bagi Rosita, melayani klien yang ingin mencurahkan isi hati bukan merupakan beban kerja. Ia justru merasa senang dapat membantu orang lain meringankan beban emosional melalui percakapan intens selama durasi pertemuan yang telah disepakati.
"Bener-bener yang curhat sampai kalau misalnya ada yang nangis pun juga kayak ya sudah aku sangat happy, aku enggak merasa energiku habis," kata Rosita.
Selain curhat, Rosita juga sering menerima permintaan untuk membantu pembuatan konten video. Meskipun layanan tersebut tidak tercantum secara resmi, ia tetap memberikan bantuan sebagai nilai tambah bagi pelanggannya.
"Sebenarnya aku tuh enggak pernah cantumin kalau aku bisa ngedit sih cuma kalau misalnya dia request, ya kenapa enggak? Enggak apa-apa juga karena Jadi kadang aku suka ngasih free untuk dieditin 2-3 video," ujar Rosita.
Beberapa permintaan klien terkadang bersifat sangat spesifik dan unik. Salah satu pengalaman yang diingatnya adalah permintaan pendampingan hanya untuk kebutuhan dokumentasi foto demi meyakinkan pihak keluarga klien.
"Yang unik waktu itu pernah dia cuma minta waktuku cuma satu jam saja karena dia cuma mau foto sama aku saja karena dia butuh teman cewek untuk dia fotoin bareng gitu untuk ngasih tunjuk ke orang tuanya kalau dia lagi sama teman cewek gitu," ungkap Rosita.
Proses pemesanan jasa dilakukan melalui pesan singkat WhatsApp setelah komunikasi awal di media sosial. Dalam tahap ini, klien dapat meminta penyesuaian penampilan atau pakaian agar sesuai dengan tema acara yang akan dihadiri bersama.
"Ada contohnya kayak kemarin bulan Ramadhan yang request, "kak bisa tolong pakai jilbab enggak?" Dia request untuk aku pakai jilbab karena dia pengen bikin konten, mau foto-foto," ujar Rosita.
Penyesuaian kode pakaian juga berlaku untuk acara formal atau perayaan pribadi lainnya. Hal ini dilakukan agar keberadaan penyedia jasa terlihat natural di lingkungan sosial klien tersebut.
"Terus ada juga yang dia mau celebrate birthday-nya untuk dress code-ku menyesuaikan," kata Rosita.
Terkait biaya, tarif yang dikenakan bervariasi mulai dari Rp50.000 untuk durasi dua hingga tiga jam. Untuk layanan satu hari penuh di dalam kota, tarifnya berkisar antara Rp250.000 hingga Rp275.000.
"Jadi kalau misalkan untuk hanya satu tempat atau untuk 2 jam, 3 jam Itu per jamnya sekitar Rp50.000. Kalau untuk seharian full, itu tuh sekitar Rp250.000 sampai Rp275.000 All day," jelas Rosita.
Tarif untuk layanan di luar kota dipatok lebih tinggi karena faktor durasi dan mobilitas. Rosita juga memberikan catatan bahwa biaya operasional seperti makan dan transportasi menjadi tanggung jawab penyewa jasa.
"Kalau untuk luar kota itu rate-nya sekitar Rp350.000 per hari," tambahnya.
Dalam menjalankan profesinya, Rosita menerapkan aturan ketat mengenai batasan interaksi. Ia melarang adanya kontak fisik dan menolak klien yang sudah memiliki pasangan demi menjaga profesionalitas kerja.
"Kontak fisik enggak boleh, enggak punya pasangan. Kalau misalnya dia cowok entah itu pacar entah itu istri pokoknya yang penting enggak boleh punya pasangan," tegas Rosita.
Ketegasan ini diterapkan untuk mencegah terjadinya kesalahpahaman atau pelecehan. Rosita menceritakan pengalaman ketika ia harus menegur klien yang mencoba menyentuhnya saat sedang berada di bioskop.
"Enggak boleh Kak" Aku bilang gitu, kan sudah tahu kok enggak boleh," ujar Rosita.
Ia menceritakan bahwa kejadian tersebut terjadi setelah sesi pertemuan berakhir namun masih berada di lokasi publik. Dirinya menekankan bahwa transparansi aturan di awal pertemuan sangat krusial bagi keselamatan penyedia jasa.
"Jadi waktu itu dia Ini klien yang sudah sering repeat mengajak nonton pas sudah selesai bener-bener sudah selesai lampu sudah nyala nih dia agak kayak megang gitu," kata Rosita.
Penyedia jasa lain bernama Raska juga memulai inisiatif serupa setelah melihat tren tersebut populer di luar negeri. Ia awalnya hanya mencoba-coba untuk melihat minat pasar di Indonesia sebelum akhirnya menekuni jasa ini secara serius.
"Saya mulai sekitar awal tahun lalu, kurang lebih bulan Februari. Waktu itu sebenarnya bukan langsung seperti sekarang, lebih ke coba-coba dulu," kata Raska.
Antusiasme masyarakat yang tinggi membuat Raska mempertahankan layanan ini hingga sekarang. Ia melihat adanya peluang ekonomi dari kebutuhan dasar manusia yang sulit terpenuhi di lingkungan perkotaan yang sibuk.
"Tapi setelah beberapa bulan berjalan dan ternyata responsnya cukup banyak, akhirnya saya lanjutkan sampai sekarang," ungkap Raska.
Ia merefleksikan bahwa pertemanan yang biasanya bersifat sukarela kini telah bergeser menjadi layanan berbayar. Hal ini dipicu oleh terbatasnya lingkaran pergaulan atau waktu yang dimiliki oleh masyarakat urban saat ini.
"Tapi ternyata setelah menjalani ini, ketika orang tidak punya waktu atau enggak punya circle, hal sederhana seperti itu bisa jadi sesuatu yang dibutuhkan," kata Raska.
Raska sering mendampingi klien untuk aktivitas rutin seperti makan bersama di pusat perbelanjaan. Ia merasa pekerjaan ini memberikan kepuasan emosional tersendiri saat klien merasa terbantu secara mental.
"Dia bilang sudah lama enggak punya teman bicara, dan pertemuan itu membuatnya merasa lebih plong," tutur Raska.
Pelanggan jasa ini, Febrian, mengaku menggunakan layanan tersebut karena merasa terisolasi akibat rutinitas kerja jarak jauh. Kehadiran teman jalan membantunya merasakan kembali interaksi sosial yang nyata.
"Sederhana sebenarnya, cuma pengin ada teman makan di luar. Enggak ada acara besar atau apa, cuma pengin duduk, ngobrol, dan punya teman lah," kata Febrian.
Sementara itu, Dita menggunakan jasa ini untuk membantu pekerjaan kreatifnya dalam mengeksplorasi tempat-tempat baru. Baginya, menyewa teman jalan adalah solusi praktis ketika teman-temannya yang lain tidak memiliki waktu luang.
"Lebih ke nemenin aku eksplor beberapa tempat sekaligus bantu ambil konten. Tapi yang paling utama sebenarnya biar ada yang nemenin saja, jadi enggak sendirian," kata Dita.
Naila, seorang pendatang baru di Jakarta, merasa terbantu karena tidak perlu lagi merasa canggung saat harus menghadiri acara sosial di lingkungan baru. Kehadiran teman bayaran membuatnya merasa lebih nyaman di tengah kerumunan.
"Waktu itu aku baru sekitar dua bulan pindah ke Jakarta karena kerjaan. Lingkungannya masih baru, teman dekat juga belum ada," kata Naila.
Kebutuhan untuk tidak terlihat sendirian menjadi motivasi utama Naila menggunakan layanan ini. Ia berpendapat bahwa tekanan sosial untuk tampil berkelompok sangat terasa di kota besar seperti Jakarta.
"Sebenarnya sederhana sih, cuma pengin ada teman ngobrol, biar enggak terlihat sendirian dan lebih nyaman saja selama di sana," ujarnya.
Rasa kurang nyaman muncul ketika Naila harus berada di tengah keramaian tanpa pendamping. Meskipun mampu melakukan aktivitas sendiri, ia merasa kehadiran orang lain meningkatkan rasa percaya dirinya secara sosial.
"Semua orang kan datang berpasangan atau berkelompok, jadi kalau sendirian tuh kayak gimana ya, bukan berarti enggak bisa, tapi ya kurang nyaman saja," kata Naila.
Sosiolog Universitas Negeri Jakarta, Rakhmat Hidayat, menilai fenomena ini sebagai dampak dari gaya hidup individualistis masyarakat perkotaan. Platform digital mempercepat pergeseran interaksi sosial menjadi lebih praktis dan transaksional.
"Nah jasa teman jalan menyediakan solusi praktis untuk memenuhi kehidupan sosial tanpa harus melalui proses panjang dalam membangun hubungan sosial yang mendalam," kata Rakhmat Hidayat.
Rakhmat menambahkan bahwa nilai ketulusan dalam pertemanan mulai terkikis oleh kebutuhan fungsional sesaat. Hubungan antarmanusia kini dapat diukur dengan imbalan materi demi memenuhi kepuasan sosial dalam waktu singkat.
"Saya melihatnya bahwa pertemanan kini tidak hanya dibangun atas dasar rasa saling mengenal, akrab, personal, dekat, ketulusan tetapi juga dapat berdasarkan kebutuhan sesaat atau bahkan imbalan transaksional," jelas Rakhmat Hidayat.
Psikolog Virginia Hanny menambahkan bahwa layanan ini adalah alternatif cepat untuk mengisi kekosongan relasi di tengah kesibukan individu. Manusia memiliki kebutuhan dasar untuk didengar dan ditemani yang harus segera dipenuhi secara emosional.
"Pada dasarnya, manusia butuh untuk berinteraksi, bersosialisasi, ditemani, didengar, dan tidak merasa sendirian," ujar Virginia Hanny.
Namun, Virginia memperingatkan risiko munculnya persepsi kedekatan yang semu bagi para pengguna jasa. Interaksi yang hangat dapat disalahartikan oleh otak sebagai hubungan emosional yang nyata meskipun dibatasi oleh kontrak kerja.
"Otak seseorang pun dapat memproses hal ini sebagai kedekatan, walaupun sebenarnya relasinya memiliki batasan yang jelas dan sifatnya transaksional," jelas Virginia Hanny.