FBI Selidiki Dokumen Kebencian Pelaku Penembakan Masjid San Diego

FBI Selidiki Dokumen Kebencian Pelaku Penembakan Masjid San Diego
Foto: Ilustrasi FBI Selidiki Dokumen Kebencian Pelaku Penembakan Masjid San Diego.

Otoritas keamanan Amerika Serikat tengah menyelidiki dokumen tertulis berisi pesan kebencian yang ditinggalkan oleh dua remaja pelaku penembakan fatal di sebuah masjid di San Diego. Aksi penembakan maut tersebut terjadi di Islamic Center of San Diego pada Senin (18/5/2026) dan menewaskan tiga orang korban.

Kedua pelaku teror tersebut diidentifikasi bernama Cain Clark yang berusia 17 tahun dan Caleb Vazquez yang berusia 18 tahun. Dilansir dari Media Indonesia, pihak berwenang menyatakan bahwa kedua tersangka tewas karena bunuh diri tidak lama setelah melepaskan tembakan di lokasi kejadian.

Penyelidik menemukan dokumen setebal 75 halaman yang diunggah secara daring dan diduga kuat merinci motivasi penyerangan para tersangka. Dokumen tersebut berisi retorika kebencian yang ditujukan kepada umat Muslim, Yahudi, komunitas LGBTQ+, warga kulit hitam, perempuan, serta spektrum politik kiri maupun kanan.

Dalam manifesto tersebut, kedua pelaku menyebut kelompok mereka sebagai Sons of Tarrant. Nama itu merujuk pada Brenton Tarrant, pelaku penembakan massal di masjid Christchurch, Selandia Baru, pada tahun 2019 silam. Vazquez juga secara terang-terangan memuji Adolf Hitler sebagai inspirasi ideologisnya dan mengaku sebagai bagian dari komunitas incel.

Tiga korban yang meninggal dunia dalam peristiwa ini adalah Amin Abdullah, Mansour Kaziha, dan Nadir Awad. Ketiganya dipuji sebagai pahlawan karena tindakan heroik mereka berhasil memperlambat pergerakan pelaku, sehingga mencegah para penyerang menjangkau 140 anak sekolah yang berada di dalam kompleks masjid.

Amin Abdullah sempat melakukan baku tembak dengan tersangka dan memberikan peringatan penguncian gedung melalui radio sebelum akhirnya gugur. Sementara itu, Mansour Kaziha merupakan pengurus yang aktif melayani kebutuhan masjid, dan Nadir Awad adalah tetangga sekitar yang bergegas datang untuk melindungi istrinya yang mengajar di sekolah tersebut.

"Jika Amin tidak melakukan apa yang ia lakukan, para tersangka akan dengan mudah mengakses setiap ruang kelas," ujar Imam Taha Hassane.

Hingga saat ini, komunitas global terus menyalurkan bantuan melalui penggalangan dana yang diluncurkan oleh pihak masjid untuk mendukung keluarga korban yang ditinggalkan. Dana yang terkumpul telah mencapai lebih dari US$2,7 juta atau sekitar Rp43 miliar dari target total sebesar US$3 juta.

Artikel terkait

Rekomendasi