Fatema Obaid, warga Palestina berusia 95 tahun yang merupakan penyintas Nakba 1948, kini harus bertahan hidup di tengah pengepungan dan kelaparan di Kota Gaza hingga Jumat (15/5/2026). Ia dilaporkan kehilangan 70 anggota keluarganya akibat serangan udara yang menghancurkan rumahnya di lingkungan Shujaiya sejak konflik pecah pada 2023.
Kisah keteguhan Obaid ini dilansir dari Media Indonesia, yang menyoroti pilihannya untuk tetap tinggal di wilayah utara meskipun militer Israel telah mengeluarkan perintah evakuasi massal. Baginya, meninggalkan rumah untuk kedua kalinya adalah bentuk pengulangan tragedi masa lalu yang ia tolak mentah-mentah.
"Pada Nakba pertama, memang benar ratusan ribu orang kehilangan tanah, rumah, dan desa mereka. Namun dalam Nakba kali ini, kami kehilangan seluruh sejarah," ujar Obaid.
Perbandingan antara peristiwa Nakba 1948 dan situasi di Gaza saat ini menunjukkan peningkatan skala kehancuran yang signifikan. Data menunjukkan jumlah korban jiwa dan warga yang terusir dalam periode 2023-2025 jauh melampaui statistik pada tragedi 1948.
| Kategori | Nakba 1948 (1947-1949) | Genosida Gaza (2023-2025) |
|---|---|---|
| Korban Jiwa | 13.000 - 15.000 jiwa | > 72.000 jiwa |
| Warga Terusir | ~ 750.000 orang | ~ 2.000.000 orang |
| Kondisi Wilayah | Penyitaan desa & kota | Penghancuran total & zona terlarang |
Selama agresi berlangsung, Obaid telah berpindah tempat pengungsian lebih dari 10 kali setelah kediamannya rata dengan tanah. Ia kehilangan anak-anak dan cucunya dalam sebuah serangan udara yang menyisakan duka mendalam bagi lansia tersebut.
"Mereka mengebom rumah kami dan membunuh lebih dari 70 anggota keluarga saya. Sekarang, orang-orang tertawa ketika saya bilang hanya satu setengah putra saya yang masih hidup; satu yang selamat, dan satu lagi terluka parah hingga tidak bisa berjalan," tutur Obaid.
Kondisi di Kota Gaza semakin memprihatinkan setelah Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu (IPC) yang didukung PBB secara resmi menyatakan terjadinya kelaparan pada Agustus 2025. Obaid tetap bertahan meski akses terhadap air bersih dan bahan pangan sangat terbatas.
"Ada hari-hari saat kami tidak menemukan setetes air pun. Kami menghitung setiap tegukan, hampir tidak menemukan makanan, dan dipaksa melarikan diri dari satu tempat ke tempat lain. Kesehatan saya hancur, tetapi saya tidak ingin mati di pengungsian luar Kota Gaza," tegas Obaid.
Kehancuran fisik akibat perang juga melenyapkan harta benda bersejarah milik Obaid, termasuk gaun pengantin yang ia simpan selama delapan dekade. Kini, satu-satunya barang yang tersisa adalah sepasang anting pemberian ayahnya yang terus ia kenakan.
"Saya tidak pernah melepasnya. Itulah sebabnya anting ini selamat bersama saya. Ini satu-satunya benda yang tersisa dari sebelum Nakba 1948. Anting ini bertahan melewati dua kali Nakba, sementara begitu banyak anggota keluarga saya terbunuh. Anting ini masih 'hidup'," pungkas Obaid.