Dataran Tinggi Dieng yang terletak di perbatasan Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara menyuguhkan fenomena embun es langka serta kekayaan sejarah pada Senin, 20 April 2026. Kawasan pada ketinggian 2.090 meter di atas permukaan laut ini memiliki daya tarik berupa perpaduan lanskap pegunungan dan peninggalan peradaban kuno.
Wilayah ini secara administratif dikelola bersama oleh dua pemerintah daerah sebagai bagian dari geopark nasional. Posisi geografisnya yang tinggi menjadikan kawasan tersebut sering tertutup kabut tebal hingga mendapat julukan sebagai negeri di atas awan bagi para wisatawan.
Dilansir dari Detik Travel, salah satu pemukiman di kawasan ini yakni Desa Sembungan diakui sebagai desa tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 2.300 meter. Desa tersebut pernah meraih penghargaan nasional sebagai salah satu desa terbaik dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022.
Fenomena alam yang paling menonjol adalah kemunculan embun es atau frost yang biasanya terjadi antara bulan Juni hingga Oktober. Kondisi ini terbentuk saat uap air mengalami kondensasi dan membeku ketika suhu udara turun hingga mendekati atau di bawah titik beku.
Dieng juga merupakan area vulkanik aktif yang memiliki sekitar 22 titik kawah dengan karakteristik yang berbeda-beda. Beberapa kawah seperti Kawah Sikidang diketahui terus mengeluarkan uap panas dan gas yang lokasinya dapat berpindah-pindah seiring aktivitas magma di bawah permukaan.
Selain aspek geologi, kawasan ini menyimpan nilai sejarah besar melalui keberadaan Kompleks Candi Arjuna yang merupakan peninggalan Hindu tertua di Indonesia dari abad ke-7. Nama Dieng sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yang memiliki arti tempat bersemayam para dewa.
Kehidupan sosial masyarakat setempat masih memegang teguh tradisi mistis anak berambut gimbal yang tumbuh secara alami. Masyarakat meyakini rambut tersebut tidak boleh dipotong secara sembarangan dan harus melalui prosesi ritual khusus yang disebut ruwatan.
Meskipun memiliki keindahan alam seperti pemandangan matahari terbit keemasan di Bukit Sikunir, kawasan ini memiliki catatan sejarah kelam terkait gas beracun. Aktivitas vulkanik pada tahun 1979 tercatat pernah melepaskan gas karbondioksida berbahaya yang mengakibatkan 149 orang meninggal dunia.