Rencana Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menaikkan tarif royalti komoditas mineral memicu kerontokan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia sebesar 2,82 persen ke level 6.969,39 pada penutupan perdagangan Jumat (8/5/2026).
Dilansir dari Investortrust, kebijakan baru ini menyasar komoditas tembaga, timah, nikel, emas, hingga perak, serta menyebabkan penurunan terdalam pada saham sektor material dasar sebesar 7,80 persen.
Sejumlah saham komoditas mineral ambruk hingga terkena auto reject bawah (ARB), seperti PT Timah Tbk (TINS) yang anjlok 14,88 persen menjadi Rp 3.490 dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) yang jatuh 13,89 persen ke posisi Rp 5.425.
Kementerian ESDM menjadwalkan pengajuan rencana penyesuaian interval harga mineral acuan dan kenaikan tarif ini kepada Presiden Prabowo Subianto agar bisa diberlakukan secara tidak berlaku surut pada Juni 2026.
Berdasarkan riset pasar Stockbit Sekuritas, komoditas timah mengalami usulan kenaikan royalti tertinggi dari kisaran 3ÔÇô10 persen menjadi 5ÔÇô20 persen, diikuti kenaikan emas menjadi 14ÔÇô20 persen, serta perak menjadi progresif 5ÔÇô8 persen.
ÔÇ£Secara historis, setiap kabar kenaikan tarif royalti disebut kerap diikuti reaksi negatif pasar dalam jangka pendek,ÔÇØ tulis Stockbit Sekuritas.
Pihak Stockbit Sekuritas menambahkan bahwa emiten timah akan menjadi pihak yang paling terdampak oleh kebijakan baru ini, sedangkan dampak bagi emiten nikel seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dinilai lebih terbatas berkat diversifikasi bisnis.
ÔÇ£With kondisi tersebut, emiten timah disebut menjadi pihak yang paling terdampak oleh kebijakan royalti baru. Sementara dampak terhadap emiten nikel dinilai lebih terbatas, terutama bagi emiten yang memiliki bisnis terdiversifikasi seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM),ÔÇØ tulisnya.
Sektor pertambangan mineral dan batubara saat ini juga masih menghadapi ketidakpastian akibat adanya pembahasan wacana penerapan bea ekspor serta windfall tax oleh Kementerian Keuangan.
ÔÇ£Oleh karena itu, pergerakan saham sektor minerba secara keseluruhan dinilai masih cenderung volatil dalam jangka pendek,ÔÇØ tulisnya.