Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, mengonfirmasi bahwa pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebesar 100 gigawatt (GW) tidak akan menimbulkan kelebihan pasokan listrik, terutama di Pulau Jawa. Menurut Yuliot, pemasangan PLTS tersebar di berbagai wilayah Indonesia sehingga sesuai dengan kebutuhan energi di tiap daerah.
Yuliot menjelaskan bahwa pada tahap pertama proyek ini, pemerintah menargetkan pembangunan 17 GW PLTS dan melengkapinya dengan sistem penyimpanan energi baterai atau battery energy storage systems (BESS) sebesar 33 GW. Kebutuhan ini dianggap perlu untuk menggenjot kapasitas yang direncanakan.
Kementerian ESDM juga telah memastikan ketersediaan lahan untuk pembangunan PLTS seluas 24.000 hektare di Pulau Jawa. Lahan ini akan menunjang target 100 GW PLTS yang diusung pemerintah. Langkah ini diharapkan mempermudah realisasi proyek energi baru terbarukan di Indonesia.
Pembangunan PLTS dan Penyimpanan Energi
Proyek 100 GW PLTS merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan penggunaan energi ramah lingkungan. Selain itu, penambahan sistem penyimpanan energi sebesar 33 GW diharapkan dapat mendukung operasional PLTS agar lebih efisien.
Penyediaan baterai energi ini juga bertujuan untuk memastikan bahwa suplai listrik dapat diakses secara berkelanjutan, mengatasi fluktuasi produksi listrik tenaga surya akibat cuaca. Ini penting untuk menjaga stabilitas jaringan listrik nasional.
Komitmen Kementerian ESDM
Yuliot menegaskan bahwa proyek ini akan diselesaikan dengan fokus pada ketahanan energi nasional. Dengan sumber daya yang merata dan berkelanjutan, diharapkan dapat mencapai bauran energi terbarukan yang lebih tinggi.
Proyek ini sekaligus menjadi bagian dari strategi jangka panjang pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Melalui langkah ini, Indonesia berharap dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pengurangan emisi global.