Emiten Soroti Ketahanan Makroekonomi sebagai Kunci Penarik Investasi

Emiten Soroti Ketahanan Makroekonomi sebagai Kunci Penarik Investasi
Foto: Ilustrasi Emiten Soroti Ketahanan Makroekonomi sebagai Kunci Penarik Investasi.

Sektor emiten memberikan apresiasi terhadap langkah reformasi struktural di pasar modal Indonesia yang digulirkan oleh OJK dan BEI pada Senin (11/5/2026). Dilansir dari Finansial, langkah ini dilakukan sebagai respons atas tekanan keluarnya modal asing yang signifikan dari pasar domestik.

Presiden Direktur PT Super Bank Indonesia Tbk. (SUPA) Tigor M. Siahaan menilai keberhasilan pembaruan kebijakan tersebut dipicu oleh evaluasi lembaga global. Menurutnya, momentum tekanan pasar menjadi titik balik bagi otoritas untuk merilis kebijakan yang lebih fundamental.

"Kalau [reformasi] pasar modal saya kasih nilai 8," ujar Tigor M. Siahaan, Presiden Direktur PT Super Bank Indonesia Tbk. (SUPA).

Tigor mengacu pada pandangan mantan Menteri Keuangan Chatib Basri yang menyebutkan bahwa kebijakan berkualitas sering kali lahir dari situasi sulit. Tekanan dari lembaga pemeringkat indeks global dipandang sebagai pendorong lahirnya kebijakan kuat yang direspons positif pasar.

"Pasar modalnya bagus, tapi kalau banyak hal-hal yang masih menjadi tanda tanya di benak investor, kita jangan mimpi indeks bisa langsung balik ke level 9.000. Masih banyak hal yang mesti kita perhatikan sebagai sebuah negara," jelas Tigor M. Siahaan, Presiden Direktur PT Super Bank Indonesia Tbk. (SUPA).

Meskipun performa internal bursa menunjukkan kemajuan, Tigor menekankan bahwa pasar modal hanya bertindak sebagai fasilitator bagi investor. Keberhasilan menarik investasi tetap bergantung pada kesehatan lingkungan ekonomi makro dan stabilitas nilai tukar rupiah.

"Tentu saja kita tidak mungkin bohong bahwa ini hanya [bisa] kita atur di sini saja, hal-hal ini ada di benak semua orang. Apakah ini waktu yang tepat untuk masuk? Kita tahu outflow dari saham dan obligasi sampai April sudah sekitar Rp60 triliun hingga Rp68 triliun. Itu jumlah yang sangat besar," papar Tigor M. Siahaan, Presiden Direktur PT Super Bank Indonesia Tbk. (SUPA).

Fokus perhatian investor institusi saat ini tertuju pada isu pembengkakan biaya pinjaman serta ketahanan fiskal pemerintah. Tigor menyebut pasar sedang mencermati kepastian defisit fiskal dan prospek peringkat utang Indonesia yang sempat menerima pandangan negatif internasional.

"Indonesia always disappoints, mengecewakan kelompok pesimis yang mengira pasar akan benar-benar hancur, namun ternyata ekonomi jalan terus. Tapi juga mengecewakan kelompok optimis yang mengira pasar akan meroket, ternyata realisasinya biasa saja. Secara keseluruhan, saya optimis dalam jangka panjang, namun berhati-hati [cautious] dalam jangka menengah," ungkap Tigor M. Siahaan, Presiden Direktur PT Super Bank Indonesia Tbk. (SUPA).

Pemerintah diharapkan segera menuntaskan persoalan di sektor riil, termasuk penyederhanaan birokrasi dan jaminan kepastian hukum. Di sisi lain, emiten berkomitmen untuk terus meningkatkan transparansi kinerja keuangan guna menjaga kepercayaan investor di tengah kondisi pasar yang menantang.

Artikel terkait

Rekomendasi