Fenomena iklim El Nino Godzilla diprediksi melanda berbagai wilayah Indonesia termasuk Jakarta selama musim kemarau pada periode April hingga Oktober 2026 mendatang. Kondisi ini memicu cuaca yang lebih panas dan kering yang berdampak signifikan pada kesehatan fisik maupun stabilitas emosional masyarakat.
Munculnya risiko gangguan kesehatan mental akibat suhu ekstrem dan bahaya paparan sinar ultraviolet (UV) menjadi sorotan utama dalam fenomena ini, sebagaimana dilansir dari Megapolitan. Data penelitian global menunjukkan adanya korelasi kuat antara kenaikan suhu lingkungan dengan perubahan emosi negatif manusia secara signifikan.
Analisis terhadap 1,2 miliar unggahan media sosial di 157 negara mengungkapkan bahwa sentimen negatif meningkat saat suhu mendekati 35 derajat Celsius. Di negara berpenghasilan rendah, kenaikan emosi negatif mencapai 25 persen, sementara di negara maju tercatat sebesar 8 persen.
Faktor fisiologis menjadi pemicu utama di mana tubuh bekerja lebih keras untuk menjaga suhu sehingga cepat lelah dan mudah tersulut emosi. Selain itu, gangguan tidur akibat gerah serta dehidrasi memperparah iritabilitas dan menurunkan produktivitas harian masyarakat selama musim kemarau panjang.
Kondisi langit yang minim awan saat El Nino juga meningkatkan intensitas radiasi UV yang mencapai permukaan bumi. Dokter Irwan Saputra Batubara menjelaskan bahwa radiasi tersebut dapat merusak komponen penting kulit seperti kolagen dan elastin, hingga memicu kerusakan DNA seluler.
"Paparan sinar UV secara terus-menerus dan tanpa perlindungan dapat merusak DNA sel-sel kulit. Jika kerusakan ini terus terjadi, maka berisiko memicu pertumbuhan sel abnormal yang berujung pada kanker kulit," jelas Irwan Saputra Batubara, Dokter.
Kerusakan yang ditimbulkan meliputi kulit terbakar atau sunburn, hiperpigmentasi berupa noda gelap, hingga penuaan dini. Risiko paling fatal adalah kanker kulit seperti melanoma yang muncul akibat akumulasi kerusakan DNA dalam jangka waktu yang panjang.
Masyarakat diimbau untuk mewaspadai paparan UV tertinggi yang terjadi antara pukul 10.00 hingga 16.00 WIB. Dinas Kesehatan DKI Jakarta menyarankan pembatasan aktivitas luar ruangan pada jam tersebut, penggunaan tabir surya minimal SPF 30, serta pemakaian pakaian pelindung seperti topi dan masker.