Penguatan ekspor produk halal dinilai mampu menjadi salah satu ruang pertumbuhan ekonomi baru bagi Indonesia. Langkah strategis ini sangat krusial di tengah tekanan yang dihadapi nilai tukar rupiah akibat ketidakpastian global, seperti dikutip dari Investor Daily.
Sekretaris Jenderal B57+ Indonesia, Eka Sastra menjelaskan bahwa industri halal harus dipandang sebagai strategi daya saing. Upaya ini penting untuk mendorong produk lokal naik kelas di pasar global saat ekonomi nasional memerlukan sumber pertumbuhan yang lebih beragam.
ÔÇ£Pelemahan rupiah tentu perlu dicermati secara serius karena berdampak pada biaya impor, pembiayaan, dan persepsi investor. Namun, situasi ini juga mengingatkan kita bahwa Indonesia perlu memperkuat ekspor bernilai tambah, termasuk produk halal, agar tidak terlalu bergantung pada komoditas mentah,ÔÇØ ujar Eka.
Menurut Eka, komoditas halal dapat menjadi bagian dari strategi diversifikasi ekspor nasional. Sektor ini mencakup makanan, minuman, kosmetik, farmasi, fesyen, barang gunaan, kerajinan, hingga pariwisata ramah Muslim yang berpeluang besar jika didukung sertifikasi dan akses pasar memadai.
ÔÇ£Produk halal hari ini tidak hanya berbicara tentang kepatuhan syariah, tetapi juga tentang kualitas, kebersihan, keamanan, dan kepercayaan. Ini bisa menjadi nilai tambah bagi produk Indonesia untuk masuk ke pasar global,ÔÇØ katanya.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa penguatan ekosistem industri halal merupakan bagian penting dari transformasi industri nasional. Sektor manufaktur diarahkan agar lebih berdaya saing tinggi, inklusif, dan berkelanjutan.
ÔÇ£Penguatan industri halal tidak hanya menjawab kebutuhan pasar domestik yang besar, tetapi juga membuka peluang ekspor yang semakin luas,ÔÇØ ungkap Menperin Agus.
Eka menambahkan bahwa peluang besar tersebut hanya dapat dimanfaatkan jika Indonesia memperkuat ekosistem halal dari hulu hingga hilir. Pelaku usaha kecil dan menengah memerlukan dukungan nyata dalam proses sertifikasi, standardisasi, kemasan, pembiayaan, logistik, hingga koneksi dengan pembeli internasional.
ÔÇ£Kalau bicara ekspor halal, kuncinya bukan hanya promosi. Pelaku usaha perlu dibantu agar produknya siap secara standar, siap secara kapasitas, dan siap masuk ke pasar luar negeri,ÔÇØ ujarnya.
Perluasan Kolaborasi Global
B57+ Indonesia berkomitmen memperkuat perannya sebagai platform kolaborasi. Lembaga ini berupaya menghubungkan para pelaku usaha domestik dengan jaringan bisnis global secara lebih luas.
Melalui pendekatan tersebut, B57+ Indonesia ingin membantu membuka ruang kerja sama yang konkret. Kerja sama ini mencakup bidang perdagangan, investasi, hingga pengembangan kapasitas usaha pada sektor keuangan syariah, logistik, ekonomi digital, dan pariwisata.
ÔÇ£Optimisme ekonomi perlu dibangun dari sektor konkret yang bisa digerakkan. Ekonomi halal memberi ruang itu karena berkaitan langsung dengan industri, usaha kecil dan menengah, lapangan kerja, ekspor, dan reputasi Indonesia di pasar global,ÔÇØ tutup Eka.