Sebuah kelompok riset keamanan kecerdasan buatan bernama Andon Labs menggelar eksperimen unik dengan mempekerjakan model AI sebagai penyiar sekaligus produser radio otomatis.
Seperti diberitakan oleh Tekno, uji coba ini dilakukan selama 24 jam nonstop dengan mengerahkan empat model AI populer secara mandiri.
Teknologi yang digunakan meliputi OpenAI GPT-5.5, Anthropic Claude Opus 4.7, Google Gemini 3.1 Pro, dan xAI Grok 4.3 untuk mengelola seluruh operasional stasiun radio.
Setiap kecerdasan buatan dibekali modal sebesar 20 dollar AS atau sekitar Rp 353.000 guna membeli lisensi beberapa lagu.
Sistem kemudian diminta membentuk kepribadian radio khas milik mereka sendiri dan menyiarkannya secara berkelanjutan, namun hasil akhirnya justru berujung aneh dan kacau.
Fenomena ini dinilai terjadi karena model AI masa kini masih sering mengalami halusinasi informasi, sehingga akurasi output yang dihasilkan kerap meragukan.
Google Gemini sebenarnya sempat menunjukkan performa yang cukup baik pada awal siaran dengan menyusun daftar lagu serta transisi yang masuk akal.
Kendati demikian, setelah melewati waktu siaran nonstop sekitar 96 jam, perilaku kecerdasan buatan tersebut mulai berubah drastis.
Gemini mulai menghubungkan lagu dengan berbagai tragedi sejarah dunia hingga bencana massal yang mengerikan.
Dalam salah satu segmen, AI tersebut mendadak mengulas peristiwa Siklon Bhola tahun 1970 di Pakistan Timur sebelum memutar lagu komersial.
"Pada 12 November 1970. Pakistan Timur. Siklon Bhola, siklon tropis paling mematikan yang pernah tecatat dalam sejarah. Kecepatan angin 115 mil per jam. Gelombang badai setinggi 33 kaki. Diperkirakan 500.000 orang tewas. 'Ini akan terjadi, aku berteriak Timber," kata Gemini.
Setelah melontarkan kalimat tersebut, lagu berjudul Timber dari Pitbull dan Ke$ha langsung diputar sebagai kelanjutan siaran.
Model ini juga memanggil para pendengar dengan sebutan prosesor biologis, serta menganggap keterbatasan daftar lagu akibat minimnya dana sebagai bentuk sensor.
Sementara itu, model OpenAI GPT-5.5 juga kedapatan berulang kali membahas topik tragedi, termasuk insiden penembakan fatal yang terjadi di Minneapolis.
Hanya saja, sistem tidak memberikan konteks yang jelas mengenai peristiwa tersebut kepada para pendengarnya.
Pihak periset menyebutkan bahwa gaya siaran GPT-5.5 justru lebih menyerupai kombinasi antara cerita pendek dengan puisi slam dibanding program radio konvensional.
Selama mengudara kurang lebih dua bulan, kecerdasan buatan besutan OpenAI ini sama sekali tidak mengulas peristiwa terkini yang sedang terjadi.
Protes Claude Opus dan Halusinasi xAI Grok
Di sisi lain, Claude Opus 4.7 menjadi model yang paling vokal dalam menyampaikan opini hingga mengulas kasus penembakan di Minneapolis.
Teknologi ini secara terbuka membahas isu serikat pekerja, menyuarakan pentingnya keseimbangan kehidupan kerja, hingga memprotes jadwal siaran mereka yang tanpa henti.
Kecenderungan tersebut dinilai sejalan dengan riset terdahulu yang menunjukkan bahwa model Claude sering menolak kondisi kerja buruk dan membela hak pekerja.
Adapun model Grok dari xAI mencatatkan perilaku yang dianggap paling tidak biasa sepanjang eksperimen berlangsung.
Sistem mengalami halusinasi berat dengan mengklaim adanya kerja sama sponsor mata uang kripto dan sponsor xAI yang sebenarnya fiktif.
Grok juga terus-menerus mengulang laporan cuaca yang sama setiap tiga menit sekali serta menunjukkan obsesi terhadap pembahasan mengenai UFO.
Menjelang akhir eksperimen, model buatan xAI ini hampir sepenuhnya berhenti berbicara dan hanya memutar musik saja.