Ekonomi Indonesia mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,61 persen secara tahunan pada triwulan I-2026 yang didorong oleh penguatan konsumsi rumah tangga dan aktivitas domestik. Capaian tersebut dilansir dari Media Indonesia melampaui angka pertumbuhan pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 4,87 persen.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi dominan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dengan angka mencapai 2,94 persen. Selain itu, sektor investasi menyumbang 1,79 persen dan belanja pemerintah tercatat memberikan kontribusi sebesar 1,26 persen.
ÔÇ£Hal ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat tetap kuat dan tumbuh signifikan,ÔÇØ ujar Purbaya, Menteri Keuangan dalam keterangan tertulis pada Sabtu (16/5).
Purbaya menekankan pentingnya melihat struktur pertumbuhan ekonomi berdasarkan masing-masing komponen. Penghitungan dilakukan melalui pertumbuhan tiap komponen yang dikalikan dengan pangsanya terhadap total perekonomian nasional.
ÔÇ£Dari perhitungan tersebut, konsumsi rumah tangga menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional,ÔÇØ jelas Purbaya, Menteri Keuangan.
Pemerintah juga menerapkan strategi percepatan belanja negara pada awal tahun untuk memastikan dampak ekonomi terasa lebih merata. Penyesuaian pola realisasi anggaran ini bertujuan mendukung aktivitas ekonomi secara optimal agar tidak lagi terkonsentrasi di akhir tahun saja.
Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mengonfirmasi bahwa kinerja ekonomi pada awal tahun 2026 ini dipengaruhi oleh meningkatnya mobilitas penduduk. Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti, menyebutkan adanya faktor libur nasional dan momentum keagamaan yang memicu aktivitas belanja.
ÔÇ£Kinerja konsumsi rumah tangga pada triwulan 1-2026 utamanya didorong oleh mobilitas penduduk pada momen libur nasional dan hari besar keagamaan (Nyepi dan Idulfitri), berbagai kebijakan pemerintah dalam pengendalian inflasi, serta berbagai stimulus pemerintah untuk mendorong konsumsi seperti diskon tiket transportasi, pemberian THR atau gaji ke-14, serta penetapan BI rate pada level 4,75% sebagai upaya mendorong pertumbuhan ekonomi,ÔÇØ ujar Amalia Adininggar Widyasanti, Kepala BPS RI dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (5/5).
Pemerintah saat ini tengah memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter demi menjaga momentum pertumbuhan tersebut. Upaya ini mencakup percepatan belanja kementerian serta pelaksanaan program prioritas nasional yang telah dimulai sejak awal tahun 2026.