Nilai tukar rupiah mengalami depresiasi sebesar 2,645 persen dalam satu bulan terakhir dan melemah sekitar 1 persen di pasar spot selama sepekan terakhir, sebagaimana dilansir dari Nasional pada Jumat (15/5). Kondisi ini menempatkan kurs berada pada kisaran Rp 17.500 hingga Rp 17.600 per dolar AS.
Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menjelaskan bahwa pelemahan mata uang domestik saat ini tidak hanya dipicu oleh agresivitas Bank Indonesia (BI) dalam menjaga kurs. Menurutnya, terdapat tekanan kompleks yang melibatkan akumulasi berbagai faktor fundamental dan persepsi pasar.
"Rupiah di kisaran Rp 17.500ÔÇô17.600 sebenarnya mencerminkan akumulasi tekanan dari banyak sisi sekaligus, mulai dari faktor global, fiskal domestik, sampai persepsi investor terhadap arah kebijakan ekonomi," ujar Yusuf, Ekonom CORE Indonesia.
Intervensi yang dilakukan bank sentral sejauh ini dinilai masih efektif dalam meredam kepanikan pasar meski terjadi pelemahan yang cukup dalam. Yusuf memandang langkah BI saat ini lebih condong pada upaya defensif untuk menjaga stabilitas sistemik agar tidak terjadi dislokasi ekstrem.
"Jadi persoalan rupiah sekarang sebenarnya bukan semata-mata kurang intervensi," katanya Yusuf, Ekonom CORE Indonesia.
Peningkatan premi risiko Indonesia di mata investor internasional turut memberikan tekanan tambahan bagi nilai tukar. Hal ini berdampak pada membengkaknya biaya yang harus dikeluarkan otoritas moneter untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global.
"Kalau tekanan rupiah berasal dari faktor struktural seperti kekhawatiran investor terhadap konsistensi kebijakan dan persepsi risiko fiskal, maka intervensi moneter hanya bisa membeli waktu," ujarnya Yusuf, Ekonom CORE Indonesia.
Yusuf menegaskan bahwa tanggung jawab menjaga stabilitas nilai tukar tidak seharusnya dibebankan sepenuhnya kepada Bank Indonesia. Akar masalah saat ini dinilai berada di luar domain kebijakan moneter, termasuk terkait daya saing investasi dan koordinasi fiskal.
"Yang terjadi sekarang justru BI menjadi semacam first responder untuk masalah yang akar utamanya ada di luar kebijakan moneter," katanya Yusuf, Ekonom CORE Indonesia.
Penggunaan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang hampir mencapai Rp 1.000 triliun memang mampu menarik likuiditas, namun memiliki dampak samping terhadap sektor riil. Tingginya imbal hasil instrumen ini membuat perbankan cenderung menahan penyaluran kredit produktif demi menempatkan dana di BI.
"Jadi ongkos mempertahankan rupiah pada akhirnya dibayar lewat ekonomi domestik yang tumbuh lebih lambat," jelas Yusuf, Ekonom CORE Indonesia.
Ke depannya, tekanan terhadap rupiah diprediksi akan terus berlanjut apabila aspek kepastian kebijakan dan iklim investasi tidak segera diperbaiki oleh pemerintah. Koordinasi lintas sektoral menjadi kunci utama untuk menjaga kepercayaan pasar jangka panjang.
"Dalam konteks sekarang, koordinasi fiskal, investasi, dan komunikasi kebijakan menjadi jauh lebih menentukan dibanding sekadar menambah instrumen moneter baru," tutup Yusuf, Ekonom CORE Indonesia.