Kapal pesiar MV Hondius yang dilanda wabah hantavirus strain Andes akhirnya tiba di perhentian terakhir pada Senin (18/5/2026), yang menandai dimulainya masa penantian krusial bagi otoritas kesehatan global, seperti dilansir dari Media Indonesia.
Diagnosis infeksi dengan tingkat kematian mencapai 40 persen pada kapal pembawa penumpang dari puluhan negara ini menjadi ujian besar pertama dalam mengendalikan penularan sejak pandemi Covid-19.
Berbagai negara kini menerapkan strategi pemantauan berbeda untuk menghentikan penyebaran sekaligus meredam kecemasan publik karena masa inkubasi rata-rata virus ini sekitar tiga minggu dengan pemantauan maksimal hingga 42 hari.
Kasus terakhir di kapal menimpa seorang warga Jerman yang meninggal pada 2 Mei, bertepatan dengan identifikasi penyebab infeksi oleh peneliti, di mana tantangan utama saat ini adalah kepatuhan protokol kesehatan karena virus dapat menular antarmanusia.
Gejala awal infeksi virus Andes meliputi sakit kepala, mual, muntah, nyeri otot, sesak napas, dan batuk, yang membedakannya dari strain hantavirus lain karena kemampuan transmisi antarmanusia tersebut.
Perbedaan strategi karantina terlihat di beberapa negara, seperti Amerika Serikat yang meminta penumpang tinggal di Fasilitas Karantina Nebraska hingga 31 Mei 2026, sementara Prancis dan Spanyol memberlakukan karantina wajib yang berkekuatan hukum.
Prancis mewajibkan penumpang tinggal di rumah sakit minimal 15 hari, sedangkan Belanda menerapkan karantina mandiri di rumah dengan pengawasan harian, dan Singapura mengisolasi penumpang di rumah sakit selama 30 hari diikuti pemantauan telepon 15 hari.
Perdebatan muncul terkait metode pengujian karena CDC Amerika Serikat hanya merekomendasikan tes saat gejala muncul, berbeda dengan pandangan ahli penyakit menular dari University of Toronto yang menilai PCR rutin sangat penting.
"Mengandalkan gejala saja berarti Anda akan melewatkan banyak orang," ujar Dr. Isaac Bogoch, spesialis penyakit menular dari University of Toronto.
Bogoch menilai pengujian dini sangat krusial karena virus dapat menyebar 5 hingga 10 hari sebelum gejala muncul, dan terdapat tiga obat antivirus yang terbukti efektif jika diberikan pada tahap awal infeksi meski belum ada obat khusus.
Tantangan komunikasi publik juga mengemuka setelah Menteri Kesehatan Prancis Stephanie Rist memberikan pengarahan terbuka bersama ahli virologi, sementara CDC Amerika Serikat cenderung memberikan pengarahan singkat dan terbatas dengan alasan privasi.
Saat ini risiko penyebaran sekunder tetap menjadi ancaman nyata yang diwaspadai oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) karena beberapa penumpang sempat lolos dari pengawasan awal dan melakukan penerbangan internasional.