PT KAI Commuter melakukan penyisiran di area peron Stasiun Kebayoran, Jakarta Selatan, pada Sabtu (2/5/2026) malam menyusul adanya laporan dugaan pelecehan seksual terhadap penumpang. Aksi seorang pria yang diduga merekam area bawah rok penumpang dari bawah peron tersebut sempat viral di media sosial sekitar pukul 18.58 WIB.
Insiden ini menjadi perhatian publik setelah rekaman video yang menunjukkan seorang penumpang meneriaki pria di bawah peron beredar luas. Dilansir dari Megapolitan, terduga pelaku langsung melarikan diri saat korban mulai merekam dan berteriak meminta pertolongan di lokasi kejadian.
Manajer Public Relations PT KAI Commuter, Leza Arlan menjelaskan bahwa laporan bermula dari pengguna yang melihat keberadaan orang mencurigakan di bawah ujung peron 2. Sosok tersebut disinyalir berupaya mengambil dokumentasi ilegal saat penumpang sedang naik atau turun dari rangkaian kereta.
"Salah seorang pengguna yang mengetahui hal tersebut melaporkannya ke petugas di Stasiun Palmerah," ujar Leza Arlan, Manajer Public Relations PT KAI Commuter.
Petugas keamanan segera melakukan koordinasi dan penyisiran menyeluruh di area stasiun segera setelah menerima laporan. Namun, pencarian tersebut tidak membuahkan hasil karena terduga pelaku sudah tidak ditemukan di area yang dilaporkan.
"Petugas tidak menemukan orang yang mencurigakan tersebut," kata Leza Arlan, Manajer Public Relations PT KAI Commuter.
Pihak manajemen juga telah melakukan pengecekan terhadap seluruh rekaman kamera pengawas (CCTV) di lingkungan stasiun. Meski demikian, hasil pemeriksaan visual tidak menunjukkan adanya pergerakan sosok mencurigakan sebagaimana informasi yang diterima petugas.
"KAI Commuter berkomitmen bahwa seluruh petugas akan langsung merespons laporan-laporan yang mencurigakan dari pengguna untuk segera dilakukan tindakan penanganan lebih awal," ucap Leza Arlan, Manajer Public Relations PT KAI Commuter.
VP Corporate Secretary KAI Commuter, Karina Amanda mengungkapkan adanya peningkatan tren pelaporan kasus serupa pada awal tahun 2026. Berdasarkan data perusahaan, tercatat ada 74 kasus dugaan pelecehan seksual selama tahun 2025 hingga kuartal pertama tahun 2026.
"Di kuartal pertama 2026 ada 20 laporan. Jadi 54 kasus sepanjang tahun 2025 dan kuartal pertama 2026 ada 20 kasus," ujar Karina Amanda, VP Corporate Secretary KAI Commuter.
Karina menilai kenaikan angka laporan ini merupakan indikasi positif dari keberanian penumpang dalam menyuarakan ketidaknyamanan. Pihak operator mencatat mayoritas laporan berkaitan dengan sentuhan fisik serta pengambilan foto tanpa izin.
"Kami melihatnya dari respons positifnya adalah semakin banyak masyarakat yang berani untuk speak up," kata Karina Amanda, VP Corporate Secretary KAI Commuter.
Pihak KCI menegaskan bahwa edukasi bagi petugas keamanan di stasiun dan di dalam kereta terus diperkuat untuk menangani kondisi darurat. Masyarakat diimbau untuk segera melapor jika melihat tindakan yang melanggar norma di transportasi umum.
"Semakin banyak pengguna KRL yang berani untuk menyuarakan ataupun melaporkan ketika melihat atau mengalami," lanjut Karina Amanda, VP Corporate Secretary KAI Commuter.